JAKARTA, JURNALKUHP.COM – Siapa sangka, tiga siswi sekolah dasar asal Indonesia berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Medina, Syna, dan Naura, yang akrab disebut sebagai “Tiga Srikandi Cilik Indonesia”, sukses meraih penghargaan dalam ajang International Creativity and Innovation Award (SCIA 2025) di Vietnam, berkat proyek inovasi mereka terkait ketahanan pangan.
Karya mereka berangkat dari keprihatinan sederhana namun bermakna: banyak siswa di sekolah yang kerap membuang makanan saat jam istirahat. Fenomena ini sejalan dengan data PBB yang menyebut Indonesia sebagai penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia, sekaligus menempati peringkat kedua di Asia Tenggara dalam tingkat kelaparan.
“Itu sungguh ironi, di mana ada yang membuang makanan, sementara di sisi lain banyak orang kelaparan,” ungkap salah satu dari mereka.
Melalui riset sederhana, ketiga siswi ini menggagas sebuah aplikasi food bank untuk mengelola kelebihan makanan agar dapat disalurkan kepada yang membutuhkan.
Meski masih duduk di bangku SD dan belum menguasai pemrograman, mereka memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu proses coding.
“Otak aplikasinya kami yang desain, AI hanya bantu bahasa pemrogramannya. Kalau ada yang mudah, kenapa harus susah?” ujar mereka polos namun penuh makna.
Kesuksesan ini tak lepas dari dukungan penuh orang tua serta sekolah. Mulai dari riset, persiapan presentasi berbahasa Inggris, hingga pendanaan keberangkatan ke Vietnam, semuanya menjadi bagian dari kerja kolektif.
“Kalau tanpa orang tua, enggak mungkin bisa. Mereka yang banyak bantuin sampai bikin aplikasi juga,” ucap Naura.
Rasa bangga bercampur cemas juga mereka alami ketika membayangkan karya mereka dijiplak.
“Cari ide itu susah, bikinnya susah. Masa cuma gampangnya dikopi doang,” kata Medina.
Namun, mereka merasa aman karena aplikasi tersebut sudah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
Direktur Paten DJKI, Lastami, yang hadir dalam acara bincang ini menegaskan pentingnya melindungi karya sejak dini.
“Inovasi bisa dilakukan siapa saja, termasuk anak-anak. Dengan mendaftarkan ke DJKI, hak cipta maupun paten bisa melindungi mereka hingga 10–20 tahun. Ini penting agar jerih payah mereka tidak diambil pihak lain,” jelasnya.
Prestasi Medina, Syna, dan Naura membuktikan bahwa anak-anak Indonesia mampu bersaing di panggung dunia jika diberi kesempatan dan dukungan. Apalagi, setelah sukses di Vietnam, mereka kembali mengukir prestasi dengan meraih World Intellectual Property Organization (WIPO) School Children Award 2025.
“Kalau karya kita dipatenkan, kita lebih aman. Viralkan boleh, jual boleh, tapi paten dulu. Supaya kalau ada yang klaim, kita bisa bilang: ini punya kita,” tegas ketiga srikandi cilik itu dengan penuh semangat.
Direktur Paten DJKI pun berharap prestasi ini bisa menjadi inspirasi:
“Mudah-mudahan kisah ini menginspirasi anak-anak Indonesia lainnya bahwa riset dan inovasi tidak mengenal usia.”
Catatan Redaksi:
Prestasi tiga siswi ini menjadi pengingat bahwa ekosistem inovasi di Indonesia harus terus diperkuat. Tidak hanya bagi perguruan tinggi dan lembaga riset, tetapi juga sekolah dasar. Perlindungan hak kekayaan intelektual sejak dini adalah kunci agar ide-ide brilian tidak hilang begitu saja, melainkan tumbuh menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Source: https://youtu.be/j34A8l-iQEg?si=jgnx0CP2hkCW4khL
📌 Sumber: Podcast – Waktunya Hukum Menyapa, Channel YouTube resmi Kementerian Hukum RI, tayang pada 23 Agustus 2025.























