Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
BeritaLaporan KhususNasionalTenaga Kerja

Lion Group Diduga Langgar UU Ketenagakerjaan, 16 Pramugari Gugat Penahanan Ijazah

×

Lion Group Diduga Langgar UU Ketenagakerjaan, 16 Pramugari Gugat Penahanan Ijazah

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


JAKARTA, JURNALKUHP.COMLion Group diduga kuat melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan dan Hak Asasi Manusia terkait kebijakan penahanan ijazah serta akta kelahiran pramugari yang mengundurkan diri sebelum menyelesaikan kontrak kerja. Kuasa hukum 16 pramugari, Raka Dwi Amanda, S.H., M.H., CLA., CCL., C.MED. dan Airlangga Dwi Nugraha, S.H., M.H., CCD., CTL., CLA., CTT., C.MED., CLI. dari LAW OFFICE ADN & Partners, menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak memiliki dasar hukum dan melanggar hak dasar pekerja.

“Dokumen pribadi seperti ijazah dan akta kelahiran tidak boleh ditahan oleh perusahaan karena tidak ada dasar hukumnya. Ini jelas melanggar Hak Asasi Manusia sebagaimana diatur dalam Pasal 38 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999, yang menjamin setiap orang berhak bebas memilih pekerjaan dan mendapatkan syarat ketenagakerjaan yang adil,” ujar Raka Dwi Amanda.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!_Segenap keluarga besar Kejaksaan Republik Indonesia mengucap
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81Indonesia Berdaulat, Adil, dan MakmurDelapan puluh satu tahun
Kepala Kejaksaan Tinggi Banten, Herry Hermanus Horo, S.H. beserta jajaran mengucapkan Selamat Me
Dirgahayu Republik Indonesia! 🇮🇩17 Agustus 2026 menjadi momen bersejarah peringatan HUT ke-81
Selamat Hari Kemerdekaan ke 81th Republik Indonesia17 Agustus 1945 - 2026Indonesia Berdaulat Ad
Kepala Kepolisian Daerah Banten Beserta Staf dan Jajaran MengucapkanSelamat Hari Kemerdekaan Re
🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81🇮🇩Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Repub
Kapolres Cilegon AKBP Moehamad Probandono Bobby Danuardi., S.H, S.I.K., M.Si.beserta staff dan j
Komandan Kodim 0623-Cilegon dan Ketua Persit KCK Cab XLIX Dim 0623 Cilegon beserta keluarga Bes
Kepala Kejaksaan Negeri Cilegon Febrianda Ryendra, S.H., beserta seluruh jajaran Kejaksaan Neger
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026Merdeka Sehat, Indonesia Hebat@pemkotcilegon @robin
🇮🇩 Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 🇮🇩Segenap keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebuday
🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2026Segenap keluarga b
🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩Kemerdekaan adalah warisan yang harus kita jaga bers
🇮🇩DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA🇮🇩Keluarga Besar Dinas Sosial Kota Cilegon mengucapkan Selama (2)
Dirgahayu Republik Indonesia🇮🇩Terus melangkah bersama dan menjaga persatuan untuk mewujudkan
🇮🇩Dirgahayu Republik Indonesia Ke-81 Tahun 🇮🇩Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.81 tahun I
🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 🇮🇩17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2026Kemerdekaan adalah
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81🇮🇩Indonesia berdaulat, adil dan makmur.Mari terus bersatu

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

Saat kuasa hukum mendatangi kantor Lion Group, mereka bertemu dengan Ricardo Siahaan, S.H., perwakilan legal dari perusahaan. Ricardo menegaskan bahwa pramugari yang tidak menyelesaikan masa training atau kontrak kerja selama empat tahun wajib membayar sanksi administratif.

Namun, menurut kuasa hukum, tidak ada transparansi dalam besaran denda. Setiap pramugari dikenakan sanksi administratif dengan nominal yang berbeda-beda tanpa ada kejelasan dasar perhitungannya.

Kuasa hukum juga mengungkapkan bahwa Lion Group tidak memberikan rangkap kedua Surat Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) kepada pramugari yang bekerja di bawah naungan maskapai.

“Sesuai Pasal 54 Ayat (3) UU Ketenagakerjaan, setiap perjanjian kerja tertulis harus dibuat dalam dua rangkap. Satu untuk perusahaan, satu untuk pekerja. Namun, seluruh klien kami tidak memiliki salinan kontrak kerja mereka. Ini bukan hanya pelanggaran administrasi, tapi juga melemahkan posisi pekerja dalam menuntut hak mereka,” jelas Airlangga Dwi Nugraha.

Bahkan, menurutnya, kemungkinan besar seluruh pramugari Lion Group mengalami perlakuan serupa, yakni tidak memiliki salinan PKWT, yang seharusnya menjadi hak dasar mereka.

Dalam upaya menegakkan hak pekerja, tim kuasa hukum telah melayangkan dua kali somasi kepada Lion Group terkait penahanan ijazah dan akta kelahiran. Namun, hingga saat ini, tidak ada tanggapan dari pihak maskapai.

“Kami sudah melayangkan somasi pertama dan kedua, tetapi sama sekali tidak ditanggapi oleh Lion Group. Oleh karena itu, kami juga telah melaporkan kasus ini ke Kementerian Ketenagakerjaan agar mendapat perhatian dan tindakan tegas,” ujar Raka Dwi Amanda.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan pelanggaran ketenagakerjaan di industri penerbangan. Kini, publik menunggu langkah tegas dari otoritas terkait untuk memastikan keadilan bagi para pramugari yang merasa dirugikan.

(Redaksi Jurnal KUHP).

Example 120x600