LEBAK, JURNALKUHP.COM – Pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di SMPN 4 Gunung Kencana, Kabupaten Lebak, yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 dengan nilai bantuan sebesar Rp938.583.000, menjadi perhatian sejumlah pihak.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan pada Selasa (23/6/2026), ditemukan dugaan penggunaan material besi pada pekerjaan pondasi yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis. Di lokasi pekerjaan terlihat adanya campuran besi ulir ukuran 13 mm, besi polos ukuran 12 mm, dan besi polos ukuran 8 mm yang digunakan pada rangka pondasi sebelum dilakukan pengecoran.
Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan terkait kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam program revitalisasi tersebut.
Saat dikonfirmasi terkait temuan tersebut, Kepala SMPN 4 Gunung Kencana, Endang Wahyudin, menjelaskan bahwa kondisi tersebut telah diperiksa dan dilakukan perbaikan sesuai arahan konsultan pengawas.
“Maaf Pak, semuanya sudah diperiksa dan diperbaiki berdasarkan RAB dan arahan konsultan hari ini. Besi menggunakan besi 12. Sudah diperbaiki Pak, kemarin belum dicor langsung diganti Pak,” ujar Endang melalui pesan singkat, Selasa (24/6/2026).
Sementara itu, Ruswa Ilahi selaku pengurus Korwil Ormas Badak Banten menilai adanya temuan tersebut diduga terjadi akibat kurang optimalnya pengawasan di lapangan.
“Seharusnya konsultan pengawas maupun Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) lebih aktif berada di lokasi pekerjaan untuk memberikan arahan kepada pekerja agar penggunaan material sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Kami sangat mendukung program revitalisasi sekolah ini karena tujuannya untuk meningkatkan kualitas sarana pendidikan. Namun pengawasan harus diperkuat agar hasil pekerjaan benar-benar sesuai harapan dan tujuan program,” kata Ruswa.
Selain persoalan besi pondasi, Ruswa juga menyoroti penggunaan material semen yang diduga tidak sesuai dengan yang tercantum dalam RAB. Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi perhatian pihak terkait guna memastikan seluruh material yang digunakan memenuhi ketentuan dan standar yang berlaku.
Ia berharap pihak pelaksana, konsultan pengawas, serta instansi terkait dapat terus melakukan pengawasan dan evaluasi selama proses pembangunan berlangsung sehingga kualitas pekerjaan dapat terjaga dan memberikan manfaat maksimal bagi dunia pendidikan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah menyatakan bahwa temuan terkait penggunaan besi pada pondasi telah ditindaklanjuti dengan perbaikan sebelum proses pengecoran dilakukan. Namun demikian, pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan tetap dinilai penting guna memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai spesifikasi teknis dan ketentuan yang berlaku.
(Red





















