CILEGON, JURNALKUHP.COM – Puskesmas Citangkil menggelar kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal bagi balita dengan berat badan dan status gizi kurang di wilayah Kelurahan Tamanbaru. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu 23 April 2025 di Posyandu Tulip 2 merupakan bagian dari program berkelanjutan untuk menurunkan angka balita gizi kurang sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak-anak sejak usia dini.
Acara ini dimulai pukul 08.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 11.10 WIB. Kegiatan hari pertama PMT lokal ini meliputi berbagai pemeriksaan penting, seperti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala, pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan hemoglobin (Hb), serta tes Mantoux untuk mendeteksi kemungkinan infeksi tuberkulosis. Setelah itu, para balita menerima makanan tambahan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing.

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh dan petugas kesehatan, antara lain Kepala Puskesmas Citangkil, Kepala Seksi Kelurahan Tamanbaru, Ketua TP-PKK, dokter internship, bidan kelurahan, nutrisionis, analis laboratorium, dan para kader posyandu.
Dr. Isnayati, Kepala UPT Puskesmas Citangkil 1, yang menjadi narasumber dalam acara ini, menyampaikan bahwa kegiatan PMT lokal ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap masa depan anak-anak Indonesia, khususnya dalam penanggulangan gizi kurang.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk pemulihan gizi anak-anak. Dengan adanya deteksi dini dan pemberian makanan bergizi, anak-anak dapat tumbuh optimal secara fisik maupun kognitif,” ujar dr. Isnayati.

Dalam wawancara eksklusif bersama Redaksi JURNALKUHP.COM, dr. Isnayati juga menegaskan bahwa PMT lokal tidak hanya soal membagikan makanan tambahan, melainkan edukasi menyeluruh untuk para ibu dan keluarga balita.
“Kami juga memberikan edukasi seputar menu sehat rumahan, pentingnya pola makan teratur, dan bagaimana orang tua bisa mengoptimalkan bahan pangan lokal yang bergizi tinggi namun terjangkau,” jelasnya.
Menurutnya, masalah gizi kurang tidak selalu disebabkan oleh kemiskinan, tetapi sering kali karena kurangnya pemahaman orang tua dalam memilih dan mengolah makanan yang tepat untuk anak.
Edukasi Tambahan: Apa Itu Tes Mantoux dan Pemeriksaan Hb?
Sebagai bagian dari kegiatan ini, dilakukan juga tes Mantoux dan pemeriksaan Hb. Tes Mantoux adalah uji kulit yang digunakan untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis (TBC) laten. Hal ini penting karena TBC bisa memperburuk kondisi gizi anak. Sementara itu, pemeriksaan Hb (hemoglobin) bertujuan mendeteksi anemia, yang juga sering menjadi penyebab tumbuh kembang anak terganggu.
Menurut data Kementerian Kesehatan, satu dari tiga balita Indonesia mengalami anemia, yang bisa memengaruhi daya tahan tubuh dan prestasi belajar di masa depan. Oleh karena itu, skrining sejak dini seperti ini sangat krusial.
Langkah Lanjut dan Harapan
Kegiatan PMT lokal ini akan berlanjut dalam beberapa tahap, dengan pemantauan berkala terhadap status gizi anak-anak. Diharapkan melalui kerja sama lintas sektor antara puskesmas, kader posyandu, dan masyarakat, angka gizi kurang bisa ditekan secara signifikan di wilayah Tamanbaru.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran ibu, keluarga, dan lingkungan sangat penting. Semoga dengan dukungan semua pihak, kita bisa mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan kuat,” tutup dr. Isnayati.
.Redaksi Jurnal KUHP





















