BOGOR, JURNALKUHP.COM – Kondisi rumah tidak layak huni (RTLH) masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Bogor. Salah satu kasusnya di temukan di Kampung Sarewu Desa Cintamanik Kecamatan Cigudeg di tempati Suhemi kondisinya memperihatinkan butuh perhatian dan bantuan dari pemerintah.
Pasalnya rumah milik Suhemi mengalami kerusakan pada bagian atap, dinding bilik dan lantai terbuat dari bambu yang sudah lapuk di makan usia. Secara fisik rumah milik suhemi sudah tidak layak untuk ditempati, dikhawatirkan saat musim hujan air masuk ke dalam rumah melalui atap yang bocor dan mengganggu kesehatan terhadap penghuni rumah.

“Saya sudah lima belas tahun tinggal di rumah ini. Kondisi rumah saya rusak seperti ini sampe sekarang pemerintah setempat belum ada yang melihat keadaan rumah saya,” ungkap suhemi ke pada wartawan JURNAL KUHP Sabtu (4/1/2025).
Suhemi memaparkan saat musim kemarau atau musim hujan beberapa bagian rumahnya sering kali tersapu angin dan bocor hingga air masuk ke dalam rumah melalui atap.
“Saya hanya pekerja buruh harian lepas untuk makan sehari-hari pun seadanya saking gak punya apa-apa,” tuturnya.
Suhemi mengaku tidak bisa berbuat banyak lantaran hidup di bawah kemiskinan keadaan ekonomi membuat dia menahan keinginan untuk memiliki rumah yang layak huni.

“Mau tinggal di mana lagi sementara untuk tempat tinggal yang kami punya hanya rumah ini walaupun jelek rumah punya sendiri ya dinikmati saja mesti harus meratapi nasib ini,” ujarnya sambil menghela napas.
“Untuk bantuan dari desa alhamdulilah dapat program PKH doang tiga bulan sekali kalau tidak salah. Bantuan yang lain saya belum pernah mendapatkan,” sambungnya.

“Saya berharap dapat bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah saya agar layak huni dan keberlangsungan hidup lebih nyaman,” harapnya.
Situasi ini menjadi ironi di tengah kebijakan pemerintah yang menggembar-gemborkan program pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat. Fakta bahwa rumah Suhemi masih dalam kondisi seperti ini menunjukan perlunya perhatian serius dari pihak terkait.
Reporter : Erik
Editor : Odih Kodari























