CILEGON, JURNALKUHP.COM — Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, dipicu oleh kombinasi tanah longsor dan jebolnya tanggul penahan tanah (TPT). Lurah Taman Baru, Furqon, S.E., menjelaskan kronologi kejadian sekaligus menyampaikan kebutuhan mendesak penanganan infrastruktur untuk mencegah banjir susulan.

Menurut Furqon, kejadian pertama terjadi di RT 02 RW 03 Pabuaran pada Jumat sore, 2 Januari 2025, saat hujan turun cukup deras. Tidak adanya TPT di bagian belakang rumah warga menyebabkan tanah longsor, memunculkan sumber air yang langsung masuk ke permukiman.
“Karena belum ada TPT, tanah longsor masuk ke rumah warga. Air keluar seperti mata air dan berlangsung beberapa hari,” ujar Furqon saat ditemui Redaksi Jurnal KUHP.


Selain Pabuaran, banjir juga terjadi di Perumahan Bukit Taman Baru akibat jebolnya TPT di sepanjang aliran kali. Air masuk melalui bagian dapur rumah warga dengan ketinggian banjir mencapai sekitar 1,5 meter. Tercatat empat rumah terdampak di wilayah tersebut.
“Yang paling mengkhawatirkan adalah TPT yang jebol. Panjang kerusakan hampir 10 meter. Jika tidak segera diperbaiki, hujan kecil pun berpotensi kembali menyebabkan banjir,” tegasnya.
Sementara itu, wilayah Kubang Bale RT 01 RW 06 menjadi lokasi terdampak paling banyak. Furqon menjelaskan, air meluap karena muara drainase kecil yang berbatasan dengan Kelurahan Citangkil tidak mampu menampung debit air, sehingga aliran berbalik ke rumah warga.
“TPT ini sangat krusial. Bangunan bisa roboh karena terus diterpa air dengan tekanan besar,” jelasnya.

Secara keseluruhan, banjir di Taman Baru berdampak pada tiga rumah di Pabuaran, empat rumah di Bukit Taman Baru, dan sejumlah rumah di Kubang Bale. Meski demikian, Furqon memastikan tidak ada korban jiwa maupun rumah roboh akibat kejadian tersebut.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Namun banyak perabotan rumah tangga warga yang rusak akibat terendam air,” katanya.
Pasca banjir, warga bersama kelurahan telah melakukan pembersihan secara gotong royong. Namun Furqon menegaskan, langkah tersebut belum cukup tanpa perbaikan infrastruktur permanen.
Ia mengaku telah melaporkan kondisi ini kepada Pemerintah Kota Cilegon, dan berharap adanya dana darurat untuk perbaikan TPT serta normalisasi drainase.
“Harapan saya, dari PU maupun Pemkot Cilegon bisa segera membangun kembali TPT dan memperbaiki drainase, supaya saat musim hujan berikutnya banjir tidak kembali masuk ke rumah warga,” ujarnya.
Terkait bantuan, Furqon menyebut pada banjir awal, bantuan telah datang dari BPBD Kota Cilegon dan Dinas Sosial. Sementara pada kejadian berikutnya, bantuan berupa makan siang disalurkan oleh pihak swasta.
“Ke depan, bantuan yang dibutuhkan warga berupa sembako, serta material untuk perbaikan tanggul, TPT, dan saluran air,” pungkasnya.
Redaksi.





















