JAKARTA, JURNALKUHP.COM – Situasi di kediaman mewah Ahmad Sahroni, anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, mendadak mencekam pada Sabtu sore (30/8). Ratusan massa dari berbagai arah mendobrak barisan warga yang sempat mencoba menghadang dengan menutup portal jalan. Namun, benteng pertahanan itu runtuh, massa berhasil merangsek masuk hingga ke halaman rumah pria yang kerap dijuluki crazy rich Tanjung Priok tersebut.
Awalnya, aksi protes berjalan damai. Massa hanya berteriak dan menuntut Sahroni mencabut ucapannya yang menghina rakyat. Mereka menuntut agar politikus NasDem itu meminta maaf atas kalimat kontroversialnya: rakyat yang menyerukan DPR dibubarkan disebut sebagai “orang tolol”.
Namun, suasana berubah kacau menjelang sore. Entah dipicu apa, barisan massa tiba-tiba merangsek masuk, melempari rumah Sahroni dengan batu dan kayu. CCTV dirobohkan, pagar besi dilengserkan, kaca jendela pecah berserakan.
Yang lebih mengejutkan, sejumlah massa berhasil masuk ke dalam rumah. Dari dalam, mereka membawa keluar barang-barang berharga. Bahkan, beberapa orang justru terlihat membagi-bagikan pecahan dolar Singapura seribu-an serta dolar Amerika pecahan seratus kepada kerumunan yang haus kemarahan. Uang asing bertebaran di depan rumah Sahroni, disambut sorakan massa yang semakin beringas.
Ironisnya, di tengah amukan ratusan orang, tidak terlihat satu pun aparat kepolisian berjaga. Situasi dibiarkan liar tanpa kendali.
Sumber Jurnal KUHP di lokasi menyebut, pembiaran aparat ini menjadi tanda tanya besar. “Rumah anggota DPR kelas wahid, digeruduk, dilempari, bahkan dijarah, tapi polisi nol besar. Hilang entah ke mana. Jangan-jangan ini pembiaran sistematis,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.
Kericuhan ini bermula dari pernyataan Sahroni di Polda Sumut, Jumat (22/8), yang menyinggung keras rakyat yang melontarkan wacana pembubaran DPR.
“Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia,” ujar Sahroni dengan nada tinggi saat kunjungan kerja.
Ucapan itulah yang kini berbalik menjadi bumerang. Warga menilai pernyataan itu sebagai bentuk arogansi sekaligus penghinaan terhadap rakyat yang selama ini muak dengan kinerja parlemen.
Kini, kediaman Sahroni luluh lantak. Aset berhamburan. Rakyat yang marah membawa pulang uang dolar, sementara negara dan aparat seolah menutup mata.
Apakah ini bentuk hukuman sosial terhadap wakil rakyat yang lupa diri? Ataukah ini sinyal kuat runtuhnya legitimasi DPR di mata rakyat?
Jurnalkuhp.com akan terus mengawal kasus ini, termasuk dugaan pembiaran aparat serta kemungkinan keterlibatan pihak-pihak tertentu di balik amukan massa.
Red.























