BANTEN, JURNALKUHP.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten kembali disorot terkait utang Rp800 miliar yang menumpuk kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Utang ini mulai dicicil sejak 2021, namun proses pembayarannya dinilai berjalan sangat lambat, meninggalkan beban besar bagi Gubernur Banten terpilih, Andra Soni.
Dalam tiga tahun masa jabatan Penjabat (Pj) Gubernur Banten, Al Muktabar, progres pembayaran utang ini nyaris stagnan. Bahkan, pengamat politik dan kebijakan publik Banten, Ahmad Sururi, menyebut kinerja Al Muktabar jauh dari harapan. “Selama tiga tahun Al Muktabar tidak selesai juga, progresnya lambat. Ini jadi PR besar untuk gubernur yang baru,” ujar Sururi dalam keterangannya, Rabu (1/1/2025).
Tahun 2021, cicilan pertama hanya sebesar Rp8,9 miliar. Pembayaran meningkat pada 2022 menjadi Rp34,6 miliar, dan baru pada 2023 mencapai angka Rp138 miliar. Meski alokasi pembayaran tetap sebesar Rp138 miliar per tahun hingga 2028, masih tersisa utang Rp414 miliar yang harus ditanggung oleh Andra Soni.
Sururi menilai bahwa utang yang diwariskan ini menjadi bukti pengelolaan keuangan yang tidak efektif oleh Pemprov Banten, khususnya di masa Al Muktabar. “Mau tidak mau, utang ini harus dibebankan kepada Andra Soni sebagai Gubernur Banten terpilih,” tegasnya.
Ia juga menyarankan agar Gubernur terpilih meninjau ulang perjanjian piutang dengan PT SMI guna menghindari pengorbanan anggaran program kerja selama masa jabatan. Menurutnya, alokasi anggaran dalam APBD harus diperiksa lebih seksama agar utang tidak terus membayangi pembangunan daerah. “Atau memang ada pos alokasi yang bisa disisihkan untuk membayar utang ini, supaya tidak mengganggu pos anggaran lain di struktur APBD,” tambahnya.
Rancangan APBD tahun 2025 menunjukkan Pemprov Banten tetap mengalokasikan Rp138 miliar untuk pembayaran utang. Namun, dengan utang yang baru selesai pada 2028, Andra Soni akan dihadapkan pada dilema: melanjutkan program pembangunan atau mengutamakan pembayaran utang warisan yang terus menumpuk.
Kesimpulannya, utang besar ini menjadi cerminan pengelolaan anggaran yang lemah dan akan menjadi ujian nyata bagi Andra Soni untuk membuktikan kemampuannya menuntaskan masalah keuangan yang diabaikan oleh pemimpin sebelumnya.
Editor: ZM (Pimpinan Redaksi).























