Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
Berita NasionalIndustriOrganisasi

Dorong Hilirisasi IKM Cilegon, Asosiasi Logam dan Plastik Soroti Peluang Besar di Kota Industri Baja dan Kimia

×

Dorong Hilirisasi IKM Cilegon, Asosiasi Logam dan Plastik Soroti Peluang Besar di Kota Industri Baja dan Kimia

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


CILEGON, JURNALKUHP.COM — Kekuatan industri baja, kimia, petrokimia, dan manufaktur yang berkembang di Kota Cilegon dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM) lokal.

Ekosistem industri tersebut diharapkan tidak hanya menjadi penggerak investasi dan aktivitas industri berskala besar, tetapi juga dapat membuka ruang yang lebih luas bagi pelaku IKM untuk masuk ke dalam rantai pasok, menghasilkan produk bernilai tambah, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

20 Mei 2026,_20260530_165315_0000

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

Dorongan tersebut disampaikan M. Ibrohim Aswadi, Direktur Eksekutif Asosiasi IKM Logam dan Plastik Cilegon–Banten, dalam wawancara pada Minggu (9/8/2026).

Menurut Ibrohim, hilirisasi IKM menjadi salah satu langkah strategis untuk membawa pelaku usaha lokal naik kelas. Cilegon, kata dia, memiliki modal industri yang relatif kuat sehingga perlu dioptimalkan agar manfaat keberadaan industri besar dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha dan masyarakat lokal.

“Cilegon adalah kota industri baja dan kimia. Kekuatan industri besar yang ada harus menjadi ekosistem yang mendorong tumbuhnya IKM lokal. Jangan sampai IKM hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari rantai industri,” ujar Ibrohim.

Ibrohim menilai keberadaan industri baja dan kimia di Cilegon memberikan peluang bagi pengembangan berbagai usaha turunan, terutama pada sektor logam dan plastik.

Peluang tersebut, menurutnya, dapat dikembangkan melalui produksi komponen, penyediaan kebutuhan industri, jasa pendukung, hingga pengolahan bahan baku menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dengan pendekatan tersebut, IKM tidak hanya berorientasi pada produksi barang untuk pasar umum, tetapi juga diarahkan untuk mampu memenuhi kebutuhan industri pengguna dengan standar kualitas, kapasitas produksi, dan spesifikasi yang sesuai.

“Industri besar memiliki kebutuhan yang beragam. Ini merupakan peluang yang harus dapat dibaca dan dipersiapkan oleh IKM lokal,” jelasnya.

Ibrohim menjelaskan, hilirisasi tidak sebatas meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga mengubah pola usaha dari sekadar menghasilkan barang sederhana menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar industri.

Pada sektor logam, misalnya, material yang tersedia dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seperti komponen, peralatan, suku cadang, produk fabrikasi, serta kebutuhan penunjang industri lainnya.

“Misalnya sektor logam. Bahan baku atau material yang tersedia jangan berhenti sebagai bahan mentah atau setengah jadi. Kita dorong menjadi komponen, peralatan, spare part, produk fabrikasi dan berbagai kebutuhan industri lainnya,” katanya.

Sementara pada sektor plastik, potensi industri kimia di Cilegon dinilai dapat menjadi salah satu basis pengembangan berbagai produk turunan.

Produk tersebut dapat mencakup komponen industri, kemasan, produk rumah tangga, hingga produk yang memanfaatkan prinsip ekonomi sirkular dan daur ulang.

Menurut Ibrohim, pengembangan produk turunan tersebut membutuhkan dukungan teknologi, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, serta kemampuan IKM dalam memenuhi standar dan kebutuhan pasar.

Lebih jauh, Ibrohim menilai program hilirisasi harus dibangun melalui ekosistem yang terintegrasi.

Rantai tersebut mencakup ketersediaan bahan baku, teknologi, sumber daya manusia, pembiayaan, proses produksi, standardisasi, sertifikasi, pemasaran, hingga akses terhadap industri pengguna.

Karena itu, Asosiasi IKM Logam dan Plastik Cilegon–Banten mendorong adanya konektivitas yang lebih kuat antara IKM dan industri besar.

“Industri besar membutuhkan supplier dan mitra kerja. IKM membutuhkan pasar. Ini yang harus kita hubungkan. Kita ingin ada kemitraan yang konkret, bukan hanya seremonial,” tegas Ibrohim.

Menurutnya, kemitraan yang konkret dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat posisi IKM dalam ekosistem industri Cilegon.

Kerja sama tersebut, kata dia, dapat diarahkan pada pengembangan kapasitas produksi, pemenuhan kebutuhan industri, peningkatan kualitas produk, transfer pengetahuan dan teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Ibrohim berharap keberadaan industri baja dan kimia di Cilegon tidak hanya memberikan dampak dari sisi investasi, tetapi juga mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.

Pertumbuhan industri turunan diharapkan dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, mendorong peningkatan keterampilan, sekaligus melahirkan wirausaha baru dari masyarakat sekitar.

Dalam konteks tersebut, IKM dipandang memiliki posisi penting karena berada lebih dekat dengan masyarakat dan dapat menjadi salah satu penghubung antara aktivitas industri dengan pertumbuhan ekonomi lokal.

Namun, untuk masuk ke rantai pasok industri, IKM juga perlu meningkatkan kapasitas internal agar mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan industri pengguna.

Hal itu meliputi kualitas produk, kontinuitas pasokan, ketepatan waktu, kemampuan produksi, keselamatan kerja, administrasi usaha, serta pemenuhan standar dan sertifikasi sesuai kebutuhan.

Ibrohim menegaskan bahwa tujuan akhir dari hilirisasi bukan sekadar memperbanyak jumlah pelaku usaha, melainkan meningkatkan kualitas dan posisi IKM dalam struktur perekonomian daerah.

Ia berharap IKM Cilegon dan Banten dapat berkembang dari usaha kecil yang berorientasi pada pasar lokal menjadi bagian dari rantai pasok industri yang lebih luas.

“Kita tidak ingin IKM Cilegon–Banten selamanya berada di kelas usaha kecil. Kita ingin naik kelas menjadi bagian dari industri. Dari produsen lokal menjadi supplier, dari supplier menjadi mitra strategis industri,” ujarnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Ibrohim menilai diperlukan sinergi lintas sektor.

Pemerintah Kota Cilegon, industri baja dan kimia, BUMN, BUMD, perbankan, perguruan tinggi, lembaga sertifikasi, serta asosiasi IKM dinilai memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha lokal.

Kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada peningkatan kompetensi, akses pembiayaan, pendampingan teknologi, sertifikasi produk, penguatan manajemen usaha, serta pembukaan akses pasar.

Ibrohim melihat Cilegon telah memiliki sejumlah modal penting untuk mengembangkan industri turunan berbasis IKM, mulai dari keberadaan industri baja dan kimia, infrastruktur, sumber daya manusia hingga pasar.

Tantangan berikutnya, menurut dia, adalah bagaimana berbagai kekuatan tersebut dapat dihubungkan dengan kemampuan pelaku usaha lokal sehingga tercipta mata rantai ekonomi yang lebih kuat.

“Cilegon sudah memiliki modal besar: industri baja, industri kimia, SDM, infrastruktur dan pasar. Sekarang tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut kita hilirisasikan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Cilegon,” pungkas M. Ibrohim Aswadi.

Gagasan hilirisasi tersebut pada akhirnya menempatkan IKM bukan sekadar sebagai pelaku ekonomi pendukung, tetapi sebagai bagian dari ekosistem industri daerah. Dengan penguatan kapasitas dan kemitraan yang terukur, peluang tumbuhnya industri turunan lokal diharapkan dapat semakin terbuka dan memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat Cilegon. (Zain/red).

Example 120x600