CILEGON, JURNALKUHP.COM – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon bersama LPK AlVIN Duta Mandiri secara resmi melepas 14 siswa calon tenaga kerja yang akan di berangkatkan ke Jepang.
Pelepasan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal agar mampu bersaing di kancah internasional.
Direktur LPK ALVIN Duta Mandiri, Umar Jahidin, dalam keterangannya kepada Jurnal KUHP pada Rabu (01/04/2026), menegaskan pentingnya prosedur yang benar bagi para calon pekerja yang akan berangkat ke luar negeri, khususnya negara di luar kawasan ASEAN.
Menurutnya, aspek kebahasaan menjadi kunci utama yang harus dikuasai peserta. Ia menjelaskan bahwa berbeda dengan negara ASEAN yang relatif memiliki kemiripan bahasa, negara seperti Jepang menuntut kemampuan bahasa yang lebih spesifik dan terstruktur.
“Kalau ke luar negeri seperti Jepang, yang pertama itu bahasa. Ini penting karena akan sangat berpengaruh terhadap peluang kerja dan penghasilan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perbandingan kontribusi tenaga kerja Indonesia dengan negara lain seperti Filipina. Dalam penjelasannya, kemampuan bahasa asing menjadi faktor utama yang membuat tenaga kerja Filipina lebih unggul dalam mengisi posisi pekerjaan dengan gaji tinggi di luar negeri.

“Filipina itu unggul karena kemampuan bahasa Inggris mereka. Banyak tenaga kerja mereka yang mengisi posisi strategis dengan gaji tinggi, sementara kita masih perlu meningkatkan kualitas, terutama dari sisi bahasa dan kompetensi,” tambahnya.
Selain itu, Umar Jahidin juga mengingatkan para peserta agar menjaga sikap dan kedisiplinan selama bekerja di luar negeri. Ia menekankan bahwa perilaku yang tidak baik dapat berdampak pada citra tenaga kerja Indonesia secara keseluruhan.
“Kalau sudah sampai di sana tapi tidak disiplin, tidak mau diatur, itu akan menjadi catatan buruk. Ini yang harus dihindari,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Disnaker Kota Cilegon, Sri Widiyanti, dalam sambutannya menyampaikan harapan besar kepada para peserta agar mampu menjadi duta daerah yang membawa nama baik Kota Cilegon di mata dunia internasional.

Ia menekankan bahwa selain kemampuan teknis, aspek etika dan kedisiplinan menjadi hal utama yang akan dinilai oleh pihak Jepang.
“Ilmu bisa dipelajari, tetapi etika dan disiplin harus benar-benar ditanamkan. Ini menjadi tolak ukur utama bagi orang Jepang dalam menilai tenaga kerja kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sri Widiyanti kepala Disnaker kota Cilegon berharap para peserta dapat menunjukkan sikap profesional, menjaga marwah daerah, serta menjadi contoh positif bagi tenaga kerja Indonesia lainnya.

Program pengiriman tenaga kerja ke Jepang ini merupakan bagian dari kerja sama antara Disnaker dan lembaga pelatihan kerja dalam membuka peluang kerja ke luar negeri secara resmi dan terstruktur.
Dengan adanya program ini, diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan dari sektor tenaga kerja migran.
Reporter: Shinta Berlian























