CILEGON, JURNALKUHP.COM — Kota Cilegon nyaris kembali porak-poranda. Pascabanjir besar yang menjebol delapan titik tembok penahan tanah (TPT), Pemerintah Kota Cilegon bergerak dalam mode darurat penuh untuk menyelamatkan wilayah dari ancaman longsor dan banjir susulan.
Salah satu titik paling kritis berada di Perumnas Praja Mandiri, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cibeber. Di kawasan padat penduduk ini, tiga titik TPT jebol sekaligus, membuka potensi bencana lanjutan yang mengancam ratusan rumah warga.
Wali Kota Cilegon, Robinsar, turun langsung ke lokasi bencana, memimpin penanganan darurat. Dengan kondisi alam yang belum bersahabat dan air belum sepenuhnya surut, Pemkot tak punya pilihan selain membangun “benteng penyelamat” sementara.
“Apa yang bisa kami lakukan hari ini, kami lakukan. Kondisi alam belum memungkinkan perbaikan permanen, jadi kami optimalkan penanganan sementara untuk meminimalisir dampak banjir,” tegas Robinsar, Rabu (14/1/2026).
Alih-alih menunggu situasi membaik, Pemkot Cilegon memilih bertindak cepat. TPT darurat dibangun menggunakan pasir dalam karung, bambu, dan batu sebagai penahan sementara agar tanah tidak kembali ambruk diterjang aliran air.
“Ini TPT darurat. Menggunakan pasir karung dan bambu, sampai nanti kondisi air memungkinkan untuk perbaikan permanen,” jelas Robinsar.
Data Pemkot mencatat, sedikitnya delapan titik TPT di Kota Cilegon rusak akibat terjangan banjir. Tujuh di antaranya berada di Kecamatan Cibeber, menjadikan wilayah ini sebagai zona merah infrastruktur paling parah.
“Di Cibeber ada tujuh titik. Tapi prinsipnya, semua wilayah yang rusak akibat banjir akan kami tangani,” ujarnya dengan nada tegas.
Di sisi teknis, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Cilegon mengerahkan alat berat dan puluhan pekerja. Kepala Dinas PUTR, Dendi Rudiatna, menjelaskan bahwa TPT darurat dibangun dengan metode khusus agar tidak mudah jebol.
“Kami keruk pondasi sedalam empat meter. Lalu bambu ditanam, setelah itu ditutup batu dan karung pasir. Itu yang membuat TPT sementara menjadi kuat,” jelasnya.
Ekskavator dikerahkan tanpa henti untuk mempercepat pekerjaan di tiga titik paling kritis di Perumnas Praja Mandiri. Pemerintah menargetkan seluruh TPT darurat di lokasi tersebut rampung dalam tiga hari.
“Insya Allah akhir pekan ini selesai. Kalau air sudah surut dan alam mendukung, baru kita bangun TPT permanen,” pungkas Dendi.
Di tengah cuaca yang masih tak menentu, Cilegon kini bertaruh pada benteng darurat dari bambu dan pasir karung. Perlombaan melawan waktu pun dimulai — antara keselamatan warga dan potensi bencana susulan yang bisa datang kapan saja.
Redaksi.























