CILEGON, JURNALKUHP.COM — Dalam rapat tertutup yang digelar di Sekretariat PAC Grib Jaya Kecamatan Citangkil malam ini, pengurus inti organisasi menegaskan sikap tegas mereka terhadap berbagai isu strategis menyangkut keanggotaan, proyek pembangunan, serta realisasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di wilayah Citangkil. (21/03/2025).
Diskusi yang dimulai pukul 21:00 WIB dan berlangsung hingga larut ini dihadiri oleh Ketua PAC Grib Jaya Citangkil, Trigianto, Sekretaris GP PAC Citangkil, Andri, pengurus OKK (Organisasi, Keanggotaan, dan Kepengurusan), serta seluruh jajaran pengurus dan anggota.

Ketua Trigianto: “Anggota Sesuai Bidang, Tambang Pasir Harus Diawasi, Pengusaha Lokal Diberdayakan!”
Dalam sambutan pembukanya, Ketua PAC Citangkil, Trigianto, menegaskan bahwa keanggotaan organisasi harus memiliki peran jelas, terutama dalam menyikapi aktivitas tambang pasir di wilayah Citangkil serta keterlibatan dalam proyek nasional berskala besar seperti proyek pancang PT Chandra Asri Alkaline yang nilai investasinya mencapai Rp15 triliun.
“Kita harus susun ulang keanggotaan sesuai bidang dan peran di seluruh ranting. Tidak boleh ada anggota yang tidak tahu arah geraknya. Tambang pasir harus kita awasi ketat, karena berdampak langsung ke lingkungan dan masyarakat kita,” ujarnya tegas.
Ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan pengusaha lokal dalam proyek-proyek besar di wilayah Citangkil, terutama proyek strategis nasional (PSN).
“Proyek besar seperti PT Chandra Asri Alkali ini harus memberi manfaat bagi warga Citangkil. Kita punya pengusaha lokal, kita punya tenaga kerja, kita punya wilayah. Jangan sampai hanya jadi penonton di rumah sendiri. GP harus pastikan keterlibatan aktif pengusaha kita dalam setiap lini kegiatan proyek,” pungkas Trigianto.

Pembukaan Tegas dari Sekretaris Andri: “Soliditas Tim adalah Kunci”
Dalam sambutan lanjutan, Sekretaris Andri mengingatkan pentingnya soliditas tim dalam menjalankan roda organisasi. Ia menegaskan bahwa keanggotaan harus dilandasi motivasi dan tanggung jawab, bukan sekadar ikut-ikutan.
“Tanpa tim yang solid, PAC tidak bisa maju. Kita bukan sekadar kumpul, tapi menjalankan amanah. Data KTA sudah dikumpulkan untuk PAC, dan ranting akan menyusul,” ujar Andri.
Ia juga menyoroti masih belum lengkapnya data dari dua kelurahan, yakni Citangkil dan Samangraya, serta mewanti-wanti soal kejadian oknum yang mencoreng nama GP dengan tindak kriminal. “Yang merekomendasikan anggota harus bertanggung jawab penuh,” tegasnya.
OKK Dayat: “Kita Bukan Penonton, Kita Pemain!
Pembicaraan inti dipimpin langsung oleh Dayat dari bidang OKK. Ia menegaskan bahwa GP harus berperan aktif dalam setiap proyek yang masuk wilayah Citangkil, khususnya proyek pancang dari PT Chandra Asri Alkaline yang akan dimulai pertengahan April.
“Wilayah kita banyak proyek, tapi kita cuma nonton. Ini tidak boleh terjadi! Kita solid, satu komando. Kalau kita kompak, semua jalan,” ucap Dayat penuh semangat.
Ia juga membeberkan adanya peluang dari CSR PLN untuk mendukung usaha anggota. “Jangan pulang malam tanpa hasil. Kita harus ada hasil nyata. Ada CSR PLN, ada survei media, ayo kita siap,” tambahnya.
Langkah Tegas: Audiensi Massal dan Kawal Proyek
Dayat menyerukan aksi nyata dengan mengadakan audiensi massal dengan pihak manajemen proyek. Minimal 25 orang hadir, lebih banyak lebih baik.
“Kita bukan minta uang, kita minta kerja, minta peluang. Jangan jadi penonton. Setelah Lebaran, kita geruduk perusahaan. Kalau kita hadir ramai-ramai, mereka tahu GP itu nyata,” katanya, disambut tepuk tangan.
Kritik Tajam Anggota: “Kita Ini Punya Tanah, Jangan Sampai Proyek Pecah Belah Warga”
Seorang anggota Grib Jaya Citangkil yang turut hadir dalam rapat tersebut menyampaikan keterangan tajam berdasarkan pengalamannya di lapangan.
“Ini hasil rapat humas, dan kita ini skemanya bukan abal-abal. Saya sudah turun langsung ke lokasi proyek, itu dipegang dua titik: Warnasari dan Samangraya. Saya sudah ngobrol dengan salah satu pihak keamanan di sana, tapi untuk ketemu pihak kantor, susahnya luar biasa. Dilempar sana-sini. Apakah semua wilayah Cilegon akan seperti ini? Kalau yang bukan ‘wilayah’ dikesampingkan, itu tidak adil,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa situasi ini berpotensi memecah belah warga jika tidak ada solusi bersama.
“Kita ini jangan sampai pecah blok-blokan. Yang makan ya makan, yang nggak makan ya kering-keringan. Kita semua punya tanah di situ, saya keturunan asli Cilegon, punya hak. Jangan sampai proyek ini bikin warga terbelah. Kita harus bersinergi. Kalau dulu saya masih muda, saya suka berantem, tapi sekarang kita berpikir untuk anak, cucu, adik, saudara. Solusinya harus positif, kita cari titik temu,” ungkapnya dengan tegas.
Tawas dan CSR KTI: “Jangan Sampai Kita Dikebiri”
Dayat juga mengangkat isu distribusi tawas yang selama ini dikuasai pemasok luar daerah. GP telah mengajukan penawaran resmi ke KTI, namun tanggapan dari manajemen dinilai lamban dan kurang responsif.
“Warga lokal jangan cuma nonton. Kalau soft approach tidak digubris, kita siap tegas. CSR KTI pun kita pertanyakan, di sini tidak kebagian. Ini harus kita perjuangkan!” tegasnya.
Kritik Lanjutan Dayat: “Semua Proyek Wajib Patuh, Kita Kawal Izin dan AMDAL!”
Dayat menambahkan, proyek-proyek besar harus patuh pada aturan lingkungan dan izin operasional.
“Kita tidak mau proyek masuk seenaknya tanpa kontrol. Semua harus jelas, izin AMDAL-nya bagaimana? Limbah B3 dikemanakan? Jangan sampai masyarakat dirugikan karena tidak ada pengawasan. Kita harus kawal semua ini, demi lingkungan kita, demi hak warga,” ujar Dayat keras.
“Jangan biarkan kita dikebiri! AMDAL bukan formalitas. B3 itu bahaya kalau dibuang sembarangan. GP harus jadi garda depan kawal ini semua!” serunya lantang.
KTA Ditekankan, Dana untuk Kesejahteraan Anggota
Dalam penutupan diskusi, Andri kembali menekankan pentingnya KTA. Dana dari KTA akan masuk kas organisasi, yang akan digunakan untuk membantu anggota dalam kondisi darurat, seperti kecelakaan atau kebutuhan sosial lainnya.
“Kas itu bukan buat pribadi, tapi untuk kita semua. Kita harus partisipasi demi kelangsungan organisasi,” pungkasnya.
Kesimpulan: GP Citangkil Bergerak, Bukan Sekadar Berkumpul
Diskusi ditutup dengan seruan satu komando, satu tujuan: GP Citangkil tidak akan diam. Proyek akan dikawal, CSR akan dituntut, izin dan dampak lingkungan akan diawasi, dan keanggotaan diperkuat. GP Citangkil siap hadir sebagai kekuatan nyata di tengah masyarakat — bukan hanya bicara, tapi bertindak.
(Redaksi Jurnal KUHP).























