JEMBRANA, JURNALKUHP.COM – Seorang siswi SMP di Kabupaten Jembrana, Bali, berinisial NKA (14), terpaksa menghentikan pendidikannya setelah diduga menjadi korban bullying oleh teman-temannya sendiri. Selama enam bulan terakhir, ia tak lagi masuk sekolah lantaran mengalami trauma mendalam hingga berdampak pada kondisi kesehatannya.
Menurut penuturan ibunya, NKA kerap mendapat perlakuan yang membuatnya tidak nyaman di sekolah. Perundungan yang dialami bahkan sempat membuatnya sakit dan pingsan. Situasi itu membuat NKA semakin enggan melanjutkan pendidikan.
“Saya merasa tertekan dan tidak nyaman. Saya dijelek-jelekkan, dijauhi mereka. Saya hanya punya satu teman yang baik,” kata NKA didampingi ibunya.
Sang ibu menuturkan, meski keluarga berulang kali mendorong agar anaknya tetap melanjutkan sekolah, kondisi psikologis NKA tidak memungkinkan. Ia memilih berhenti belajar formal dan sementara waktu fokus memulihkan diri.
“Kami ingin anak tetap sekolah. Tapi karena trauma, dia tak mau lagi masuk kelas. Kami takut kalau dipaksa justru sakit lagi,” jelas ibunya.
Sebelum benar-benar berhenti, NKA sempat berpamitan kepada guru dan teman-temannya. Saat ini, keluarga berencana melanjutkan pendidikan melalui jalur kejar paket. Kepala sekolah disebut sudah memberikan pesan bahwa pintu sekolah selalu terbuka apabila NKA ingin kembali belajar.
Disdikpora Jembrana Akan Fasilitasi Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, membenarkan adanya laporan siswi putus sekolah tersebut. Pihaknya berjanji akan menindaklanjuti dengan mencari solusi terbaik.
“Kita akan carikan solusi, kita akan kunjungi dulu seperti apa kondisinya. Untuk kejar paket, kebetulan saat ini masih bisa difasilitasi. Kami akan komunikasikan agar anak ini bisa segera masuk kembali ke jalur pendidikan,” ujar Anom Saputra, Selasa (9/9).
UPTD PPA Soroti Dampak Trauma
Kasus ini juga mendapat perhatian dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Jembrana. Kepala UPTD, Ida Ayu Sri Utami Dewi, menegaskan bahwa kasus bullying harus menjadi perhatian serius karena dapat meninggalkan trauma yang besar bagi korban.
“Besok kami akan lakukan konseling psikologi untuk membantu anak ini agar bisa percaya diri lagi dan mampu bersosialisasi dengan lingkungannya,” ucapnya.
Ia menambahkan, keputusan seorang anak berhenti sekolah biasanya menandakan adanya tekanan psikologis yang berat. Oleh karena itu, semua pihak diminta lebih peka dan cepat tanggap dalam menangani kasus perundungan di sekolah.
“Kasus bullying oleh teman sebaya tidak bisa dianggap sepele. Dampaknya sangat luar biasa, sampai ada anak yang rela putus sekolah karena tidak kuat lagi menghadapi situasi di sekitarnya,” tandasnya.
Redaksi.























