Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
BeritaEdukasiOrganisasiPemkot CilegonPolres CilegonSosial

Wawancara Hangat Kepala Lapas Kelas IIA Cilegon: Dorong Pembinaan Produktif untuk Bekal Warga Binaan Kembali ke Masyarakat

×

Wawancara Hangat Kepala Lapas Kelas IIA Cilegon: Dorong Pembinaan Produktif untuk Bekal Warga Binaan Kembali ke Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


CILEGON, JURNALKUHP.COM – Dalam sebuah wawancara yang berlangsung hangat namun tetap sarat makna pada Kamis (21/05), Kepala Lapas Kelas IIA Cilegon, Raja Muhammad Ismael Novadiansyah, menyampaikan pandangan komprehensif terkait tantangan dan arah pengembangan sistem pemasyarakatan modern di Indonesia yang saat ini terus mengalami dinamika cukup kompleks.

Ia menegaskan bahwa pemasyarakatan tidak lagi semata-mata dipahami sebagai urusan pengamanan dan pengendalian warga binaan, melainkan telah bergeser menjadi bagian penting dari proses pembangunan manusia secara utuh. Dalam konteks tersebut, lembaga pemasyarakatan dituntut mampu menghadirkan ruang pembinaan yang benar-benar memberi harapan, perubahan karakter, serta pemulihan nilai sosial bagi setiap warga binaan.

dindikbud
dinsos
baznas cilegon

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

Menurutnya, kondisi pemasyarakatan saat ini menghadapi sejumlah tantangan serius, mulai dari persoalan overkapasitas, ancaman penyalahgunaan narkotika di dalam lingkungan lapas, hingga tuntutan reformasi birokrasi yang semakin menguat. Seluruh tantangan tersebut, kata dia, hanya dapat dijawab melalui kerja kolektif, penguatan integritas aparatur, serta sistem pembinaan yang terukur, profesional, dan humanis.

“Lapas tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat menjalani hukuman. Di dalamnya ada proses membangun kembali kesadaran, memperbaiki mentalitas, dan mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali diterima masyarakat dengan kehidupan yang lebih baik,” ujar Raja Muhammad Ismael Novadiansyah.

Dalam pelaksanaan tugasnya, ia menekankan pentingnya pendekatan pembinaan yang seimbang antara ketegasan aturan dan sentuhan kemanusiaan. Disiplin, menurutnya, tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas keamanan di dalam lembaga, namun di sisi lain warga binaan juga harus diberikan ruang yang cukup untuk berkembang melalui program-program pembinaan yang konstruktif.

Ia menjelaskan bahwa Lapas Kelas IIA Cilegon terus memperkuat berbagai program pembinaan, mulai dari pelatihan keterampilan kerja, pembinaan mental dan spiritual, pendidikan karakter, hingga kegiatan produktif yang diarahkan untuk membekali warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat setelah menjalani masa pidana.

Menurutnya, keberhasilan sistem pemasyarakatan tidak hanya diukur dari terciptanya keamanan dan ketertiban di dalam lembaga, tetapi juga dari sejauh mana warga binaan mampu bertransformasi menjadi individu yang lebih baik, mandiri, serta memiliki kesiapan moral dan sosial setelah bebas nanti.

Di bawah kepemimpinannya, penguatan budaya kerja aparatur juga menjadi fokus utama. Ia menilai bahwa reformasi pemasyarakatan harus dimulai dari internal lembaga, terutama dalam memperkuat integritas sumber daya manusia. Oleh karena itu, peningkatan profesionalisme petugas, kualitas pelayanan publik, serta transparansi tata kelola menjadi hal yang terus didorong secara berkelanjutan.

“Kepercayaan publik terhadap institusi pemasyarakatan harus dijaga melalui kerja nyata, pelayanan yang bersih, serta komitmen bersama untuk menjunjung integritas,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan pembinaan warga binaan. Ia menyebut bahwa persoalan pemasyarakatan tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi antara aparat penegak hukum, pemerintah daerah, lembaga sosial, hingga elemen masyarakat agar proses reintegrasi sosial berjalan optimal.

Selain aspek struktural, ia juga menyoroti pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam menciptakan suasana pembinaan yang sehat dan produktif. Melalui berbagai kegiatan seperti keagamaan, olahraga, seni, hingga aktivitas keterampilan, warga binaan didorong untuk membangun kembali rasa percaya diri, tanggung jawab, serta semangat memperbaiki masa depan.

Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki peluang untuk berubah apabila diberikan ruang pembinaan yang tepat dan berkeadilan. Karena itu, pemasyarakatan modern harus mampu menghadirkan keseimbangan antara penegakan aturan dan pembangunan nilai-nilai kemanusiaan secara beriringan.

Dengan pendekatan kepemimpinan yang dijalankan, Raja Muhammad Ismael Novadiansyah dinilai merepresentasikan arah baru pemasyarakatan yang lebih progresif, adaptif, dan berorientasi pada pemulihan sosial. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, ia menegaskan bahwa inti dari pemasyarakatan tetap terletak pada upaya membangun manusia yang lebih baik, bermartabat, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat. (Zain/red).

Example 120x600