CILEGON, JURNALKUHP.COM — Solidaritas keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon kembali diuji di tengah cuaca ekstrem yang memicu banjir di sejumlah wilayah. Tidak menunggu lama, Dindikbud bergerak cepat dengan menyerahkan bantuan pompa hisap air kepada sekolah-sekolah yang terdampak genangan, demi menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar.

Langkah cepat tersebut menjadi bukti nyata bahwa sektor pendidikan tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Cilegon, bahkan dalam kondisi darurat. Banjir yang kerap melanda kawasan tertentu dinilai tidak boleh menjadi alasan terhentinya aktivitas pendidikan dan mengancam keselamatan peserta didik maupun tenaga pendidik.
Wali Kota Cilegon Robinsar bersama Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo secara terbuka memberikan dukungan penuh terhadap aksi solidaritas yang dilakukan Dindikbud. Keduanya menegaskan bahwa pemerintah daerah harus hadir secara konkret, bukan sekadar respons normatif, ketika sekolah-sekolah menghadapi ancaman akibat cuaca ekstrem.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, Heni Anita Susila, menjelaskan bahwa bantuan pompa hisap air tersebut disalurkan kepada empat sekolah yang selama ini paling terdampak banjir, yakni SDN Masigit 1, SDN Panggung Rawi, SDN Kedalaman 2 (Karang Tengah), dan SDN Bumi Waras di Kecamatan Pulomerak.

“Bantuan ini kami harapkan dapat mempercepat penanganan genangan air di lingkungan sekolah sehingga aktivitas belajar mengajar dapat segera kembali normal,” ujar Heni, Jumat (23/1/2026).
Lebih jauh, Heni menegaskan bahwa bantuan tersebut murni lahir dari kepedulian internal insan pendidikan. Dalam waktu singkat, solidaritas kolektif berhasil diwujudkan tanpa menunggu mekanisme birokrasi yang panjang.
“Ini adalah hasil sumbangan seikhlasnya dan donasi dari kami di grup Dinas Pendidikan, mulai dari pengawas, penilik, kepala sekolah, hingga pejabat di lingkungan Dindikbud. Terkumpul hanya dalam waktu dua hari sebagai wujud kepedulian warga pendidikan terhadap sekolah yang terdampak banjir,” tegasnya.
Tak berhenti pada solusi jangka pendek, Dindikbud juga mulai mendorong langkah strategis jangka panjang. Heni mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan koordinasi intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU), BPBD, serta pimpinan daerah untuk merumuskan solusi permanen terhadap persoalan banjir di lingkungan sekolah.
Salah satu opsi teknis yang tengah dikaji adalah peninggian pondasi bangunan sekolah hingga satu meter, khususnya untuk sekolah-sekolah yang secara geografis berada di bawah level jalan dan aliran sungai, seperti SDN Masigit 1.
Senada dengan itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, Humaedi, menegaskan bahwa bantuan pompa air merupakan langkah antisipatif jangka pendek yang bersifat darurat. Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan banjir di sekolah tidak boleh dibiarkan berulang tanpa penanganan struktural yang serius.
“Pompa ini solusi cepat agar sekolah tetap bisa beroperasi. Namun ke depan, diperlukan langkah teknis yang lebih permanen agar persoalan banjir tidak terus berulang setiap musim hujan,” ujarnya.
Selain itu, Dindikbud juga terus memantau kondisi sekolah lain yang terdampak dari sisi akses dan lingkungan, seperti SDN Cibeber 1, SDN Cibeber 2, dan SDN Kedalaman 4, guna memastikan setiap satuan pendidikan mendapatkan solusi yang tepat dan berkeadilan.
Melalui aksi solidaritas ini, Pemerintah Kota Cilegon menegaskan komitmennya untuk hadir secara responsif dan nyata dalam menghadapi persoalan dunia pendidikan. Lebih dari sekadar bantuan fisik, langkah ini menjadi simbol kuat kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab kolektif seluruh pemangku kepentingan pendidikan dalam menjaga masa depan generasi Cilegon di tengah tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Redaksi.
























