Di ruang kelas sederhana, seorang guru melempar pertanyaan retoris: “Kalau pesawat berisi anggota DPR jatuh, berapa orang yang selamat?”
Dengan polos dan lantang para murid menjawab: “280 juta rakyat Indonesia, Bu!”
Jawaban itu bukan sekadar canda. Ia adalah cermin nurani rakyat. Kritik keras tersampaikan lewat kepolosan anak-anak, bahwa keselamatan dan kebahagiaan bangsa jauh lebih utama daripada kepentingan segelintir elit yang duduk di kursi kekuasaan.
Kritik serupa juga bergema di jalanan pada 28 Agustus 2025, ketika ribuan rakyat turun aksi menuntut keadilan. Namun peristiwa kelam terjadi—seorang ojek online menjadi korban, tubuhnya dilindas mobil barracuda Brimob. Gambar itu menorehkan luka mendalam bagi nurani bangsa. Ia bukan sekadar tragedi kecelakaan, melainkan simbol retaknya hubungan antara rakyat dan aparatur negara.
Rakyat yang seharusnya dilindungi justru terluka. Suara keadilan yang seharusnya didengar malah dibungkam dengan besi baja. Tetapi sejarah telah membuktikan, tekanan tidak akan pernah mampu memadamkan semangat kedaulatan rakyat.
Baik dari ruang kelas yang penuh tawa polos anak-anak, maupun dari jalanan yang penuh tangis dan darah perjuangan, satu pesan sama menggema: Indonesia adalah milik rakyat, bukan milik penguasa.
Kedaulatan tidak boleh dirampas. Amanah tidak boleh dikhianati.
Karena pada akhirnya, keselamatan sejati bukan pada jabatan atau kendaraan lapis baja, melainkan pada keberanian untuk berpihak kepada rakyat.
Narasi Pikiran Rakyat Nasionalis Kedaulatan
oleh Zainal Mutakin,
Pimpinan Redaksi Jurnal KUHP





















