Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
BeritaLaporan WargaPendidikan

Pilu! Nilai Bagus Tak Menjamin, Keimita Ayuni Putri Gagal Masuk SMP Negeri Hanya Karena Sistem

×

Pilu! Nilai Bagus Tak Menjamin, Keimita Ayuni Putri Gagal Masuk SMP Negeri Hanya Karena Sistem

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


BANTARGEBANG, JURNALKUHP.COM — Sebuah video singkat kiriman warga beredar luas di berbagai grup WhatsApp, pada hari kamis 03 juli 2025, menampilkan sosok remaja bernama Keimita Ayuni Putri Aiman. Keimita, pelajar asal Bantargebang, harus menelan kenyataan pahit: gagal diterima di sekolah negeri meski memiliki nilai akademik yang sangat baik.

Anak dari pasangan pemulung ini dikenal rajin dan cerdas. Sejak lama, Keimita memupuk satu mimpi sederhana yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa: “Bisa masuk sekolah SMP Negeri.” Namun, impian itu kandas oleh realita sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang kerap disebut tak lagi sepenuhnya berpihak pada prestasi.

20 Mei 2026,_20260530_165315_0000

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

Kini, Keimita hanya bisa menahan tangis dan melihat teman-temannya melangkah ke sekolah negeri. Di balik kesedihan itu, tersimpan satu pertanyaan besar yang menghantui banyak keluarga kecil lain:

Apakah anak-anak dari keluarga miskin masih punya ruang untuk meraih cita-citanya?

Ungkapan “EDUCATION NOT FOR SALE” yang terpampang dalam video tersebut menjadi seruan keras bagi siapapun yang menyaksikan. Kian hari, tak sedikit cerita miris serupa muncul di berbagai daerah: anak-anak pintar yang kalah bersaing bukan karena kurang berjuang, tetapi kalah oleh rekomendasi oknum anggota dewan, suap, dan nepotisme yang membayangi proses penerimaan siswa baru.

Komentar Warga di Grup WhatsApp:

“Sedih banget lihat anak sebaik dan sepintar ini nggak kebagian sekolah negeri. Mau sampai kapan begini?”
“Anak pejabat dan yang punya duit selalu diutamakan. Yang miskin cuma bisa gigit jari.”
“Nilai bagus sudah bukan jaminan. Semua tergantung relasi, duit, dan kekuasaan.”
“Miris, sistem PPDB sekarang nggak adil sama anak-anak miskin.”

“Kalau begini terus, pendidikan hanya jadi milik orang kaya.”

 

 

Cerita Keimita mengetuk hati kita semua, mengingatkan kembali makna pendidikan sebagai hak dasar, bukan barang dagangan. Dan pada akhirnya, kita bertanya bersama:

Sampai kapan mimpi anak-anak seperti Keimita harus dikalahkan oleh sistem?

Reporter: Agus Sukamto
Editor: Mas’ud Hakim, M.Si., M.H.

Example 120x600