JAKARTA, JURNALKUHP.COM — Video pengakuan seorang pria dengan wajah penuh luka dan lebam menyebar luas di media sosial dan memicu perbincangan publik. Pria yang mengunggah kesaksiannya melalui akun Instagram @zeroy rroy itu mengaku menjadi korban salah tangkap serta tindak kekerasan saat aparat melakukan pengamanan aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta.
Rangkaian Peristiwa
Menurut penuturan korban, kejadian berlangsung pada Sabtu dini hari, 30 Agustus 2025. Ia berangkat dari rumahnya di Bintara bersama seorang teman, lalu berkeliling Jakarta menggunakan sepeda motor. Setelah sempat melewati beberapa lokasi, keduanya menuju kawasan DPR.
Setibanya di lokasi, korban mengaku terkena semprotan water cannon dan gas air mata. Saat hendak mundur, ia justru dipanggil oleh aparat untuk maju ke barisan depan. Dari situlah, ia kemudian mengalami pemukulan hingga kehilangan kesadaran.
Korban mengisahkan bahwa dirinya masih menerima pukulan di dalam mobil tahanan, hingga mengalami luka serius di kepala, wajah, dan tubuh. Setelah itu, ia dibawa ke Polda untuk mendapat perawatan medis.
Pada 31 Agustus hingga 1 September 2025, korban menjalani perawatan akibat luka-luka tersebut, termasuk jahitan di kepala. Ia menyebut masih harus menjalani pemeriksaan medis lanjutan.
Mulai awal September 2025, ia membagikan kronologi pengalamannya di media sosial. Video itu dengan cepat menyebar, dan pada 4 September 2025 telah viral dengan ribuan komentar yang memenuhi ruang diskusi publik.
Respon Netizen

Unggahan tersebut memicu gelombang kritik terhadap aparat. Sebagian besar netizen mempertanyakan alasan korban bisa menjadi sasaran pemukulan, sementara ada juga yang menyoroti sulitnya mencari jalur hukum.
- Seorang warganet menulis bahwa korban seolah tidak memiliki tempat untuk mengadu selain media sosial.
- Ada pula komentar yang mendesak agar kasus ini mendapat perhatian Presiden.
- Beberapa akun bahkan menyebut korban hanya bisa mengandalkan dukungan publik agar kasusnya tidak tenggelam.
Di sisi lain, sejumlah pengguna media sosial memberikan simpati, mendoakan kesembuhan, dan meminta agar pihak berwenang menindak tegas oknum aparat yang diduga terlibat.
Publik Menunggu Klarifikasi
Hingga laporan ini dibuat, kepolisian belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait dugaan salah tangkap dan kekerasan ini. Publik menanti penjelasan yang transparan, mengingat kasus ini menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Redaksi Jurnal KUHP menegaskan pentingnya asas keberimbangan dalam pemberitaan. Karena itu, kami akan terus berupaya meminta klarifikasi kepada pihak terkait, termasuk kepolisian, saksi, maupun korban, agar publik memperoleh informasi yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.
JURNALKUHP.COM akan terus memantau perkembangan kasus ini serta menyajikan laporan terbaru untuk masyarakat.
Red.























