CILEGON, JURNALKUHP.COM — Penanganan banjir di wilayah Kelurahan Kubangsari berjalan tertib dan terkendali. Hal tersebut disampaikan Lurah Kubangsari, Siti Badiah, S.IP., M.M., dalam wawancara bersama awak media pada Selasa (6/1/2025), menyusul berakhirnya operasional dapur umum serta rampungnya pembersihan lingkungan pascabanjir.

Siti Badiah menjelaskan, dapur umum resmi ditutup pada Senin, setelah melayani warga terdampak banjir yang terjadi pada 2–3 Januari 2026. Sebanyak 178 kepala keluarga (KK) dengan total 620 jiwa berhasil tertangani melalui kerja kolaboratif lintas unsur.

“Alhamdulillah, dapur umum sudah kami tutup. Selama masa tanggap darurat, fokus kami adalah memastikan seluruh warga terdampak tetap bisa makan dan beban psikologis mereka dapat diringankan,” ujar Siti Badiah.


Ia menuturkan, dapur umum didirikan sejak malam pertama banjir, bahkan ketika genangan masih terjadi. Langkah cepat ini dilakukan agar kebutuhan dasar, terutama sarapan pagi, dapat segera didistribusikan kepada warga.

Selain pemenuhan logistik, proses evakuasi warga juga berjalan aman dan lancar. Menurut Siti Badiah, pembentukan dapur umum menjadi bagian penting dari manajemen kedaruratan di tingkat kelurahan.


“Evakuasi berjalan baik. Semua unsur bergerak bersama, mulai dari FPRB Kelurahan Kubangsari, tim dapur, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga RT dan RW,” jelasnya.


Banjir tercatat berdampak pada tiga RW, yakni RW 04 Lingkungan Kubangwelut (1 RT di sekitar pintu air), RW 01 Lingkungan Penawuan (1 RT), serta RW 02 Lingkungan Cigading Pasar dan Kebanjiran. Di tiap wilayah, RT dan RW membentuk tim relawan lokal yang melibatkan pengurus lingkungan dan pemuda setempat.

Memasuki fase pascabanjir, Kelurahan Kubangsari langsung menggerakkan kerja bakti massal. Pembersihan lingkungan dilakukan sejak hari Minggu hingga Selasa, dengan melibatkan FPRB, RT/RW, serta masyarakat.

Untuk pengangkutan sampah, pihak kelurahan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup. Bantuan armada angkut diperoleh melalui fasilitasi anggota DPRD setempat, Aflahul Aziz.

“Koordinasi dan komunikasi berjalan baik. Bantuan armada sangat membantu percepatan pengangkutan sampah pascabanjir,” kata Siti Badiah.
Siti Badiah menilai, musibah banjir menjadi pelajaran penting tentang empati dan solidaritas sosial. Menurutnya, kepedulian warga yang tidak terdampak terhadap sesama menjadi kekuatan utama dalam penanganan bencana.
“Hikmahnya, kita bisa lebih merasakan kesusahan orang lain dan terdorong untuk membantu semaksimal mungkin,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ke depan ia berharap semua stakeholder dapat memperkuat kolaborasi dalam upaya pencegahan banjir.
Dengan sinergi lintas unsur yang terbangun sejak masa tanggap darurat hingga pascabanjir, Kelurahan Kubangsari menunjukkan bahwa kolaborasi, kecepatan respon, dan kepedulian sosial menjadi kunci dalam menghadapi bencana. Ke depan, penguatan langkah pencegahan yang terencana dan berkelanjutan diharapkan mampu meminimalkan risiko banjir, sekaligus menjaga rasa aman dan ketahanan masyarakat di wilayah Kubangsari.
Redaksi.























