CILEGON, JURNALKUHP.COM – Kelurahan Kebonsari menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) Tahun anggaran 2027 yang berlangsung lancar dan partisipatif, Kamis (15/01/2026). Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk menampung dan memfinalisasi berbagai usulan pembangunan yang sebelumnya telah dihimpun melalui Musyawarah Keliling (Musling) di tingkat lingkungan.

Lurah Kebonsari, Asep Muzayyin, S.E., dalam wawancaranya bersama Redaksi Jurnal KUHP, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Musrenbangkel yang dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari Bappeda, Administrasi Pemerintahan (Adpem), Camat Citangkil, Ketua LPM, tokoh masyarakat, ketua RT dan RW, ketua Pokmas, ketua fasilitator, hingga unsur PKK, kader, dan Karang Taruna.
“Alhamdulillah, Musrenbangkel hari ini berjalan lancar. Semua unsur hadir dan usulan-usulan yang sebelumnya sudah dibahas dalam Musling telah ditampung dan diinput oleh fasilitator,” ujar Asep Muzayyin.
Banjir Jadi Fokus Usulan Prioritas

Asep menegaskan bahwa persoalan banjir masih menjadi prioritas utama dalam usulan pembangunan Kelurahan Kebonsari. Setidaknya terdapat tiga titik rawan banjir, yakni di Lingkungan Kubang Menyawak, Lingkungan Sumberbatu, dan Lingkungan Tegaltong.
Di Lingkungan Kubang Menyawak, pihak kelurahan mengusulkan pembangunan tandon air sebagai solusi jangka menengah. Tandon tersebut diharapkan mampu menahan dan menyerap air agar tidak langsung mengalir ke lingkungan lain yang kerap terdampak.
“Harapan kami, di tahun 2027 bisa terealisasi pembangunan tandon di Kubang Menyawak, karena setiap banjir, dampaknya pasti ke Kubang Menyawak dan Sumberbatu,” jelasnya.

Sementara itu, Lingkungan Sumberbatu dinilai sebagai titik akhir aliran air kiriman dari beberapa wilayah, seperti Kubang Menyawak, Weri, hingga wilayah Mancak. Kondisi ini diperparah dengan drainase yang terputus dan belum dilanjutkan pembangunannya oleh pihak terkait.
“Di Suberbatu ini sering banjir karena kiriman dari beberapa lingkungan. Drainase belum diteruskan, dan mudah-mudahan di tahun 2026 atau paling lambat 2027 bisa ada pembangunan lanjutan, termasuk sodetan untuk mengurangi debit air,” katanya.

Adapun di Lingkungan Tegaltong, kepadatan penduduk menjadi tantangan tersendiri. Solusi yang diusulkan meliputi pembuatan sodetan langsung ke sungai serta pelebaran gorong-gorong, termasuk gorong-gorong di jalur PJK kereta api.
“Mudah-mudahan untuk Tegaltong ini bisa ada tindakan, idealnya di 2026, atau paling lambat 2027,” tambahnya.
Peran Pokmas dan Masyarakat Ditekankan
Selain mengusulkan pembangunan baru, Asep Muzayyin juga menekankan pentingnya perawatan dan normalisasi infrastruktur yang sudah ada, khususnya drainase yang telah dibangun melalui Pokmas.
Ia mengimbau agar ketua RT, RW, Pokmas, dan masyarakat terus melakukan pengawasan dan gotong royong menjaga kebersihan saluran air, guna mencegah penyumbatan akibat sampah.
“Infrastruktur yang sudah dibangun harus terus dikontrol dan dinormalisasi. Kerja sama antara RT, RW, Pokmas, dan masyarakat sangat penting agar manfaatnya berkelanjutan,” tegasnya.
Dikawal Hingga Tingkat Kota
Asep berharap seluruh usulan yang telah disepakati dalam Musrenbangkel dapat terus dikawal hingga Musrenbangcam dan Musrenbang tingkat kota, sehingga permasalahan banjir yang selama ini dirasakan warga Kebonsari dapat segera ditangani secara menyeluruh.
“Mudah-mudahan semua usulan ini bisa terus dikawal sampai tingkat kecamatan dan kota, agar benar-benar bisa direalisasikan,” pungkasnya.
Dengan pelaksanaan Musrenbangkel yang berjalan kondusif dan partisipatif, Kelurahan Kebonsari optimistis bahwa perencanaan pembangunan ke depan akan lebih tepat sasaran, terutama dalam upaya mengatasi persoalan banjir yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat.
Redaksi























