Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
BeritaPerbankan

Modal Tambun, Kinerja Amburadul: BPRS-CM Terancam Kolaps di Tangan Manajemen Gagal

×

Modal Tambun, Kinerja Amburadul: BPRS-CM Terancam Kolaps di Tangan Manajemen Gagal

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


CILEGON, JURNALKUHP.COM – Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Cilegon Mandiri (BPRS-CM) kembali jadi sorotan tajam (07/08). Di tengah limpahan modal yang luar biasa tinggi, kinerja bank justru makin terpuruk. Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Cilegon, Rahmatulloh, menyebut langsung kondisi ini sebagai “lampu merah berkedip kencang” yang tak boleh diabaikan.

Di atas kertas, Capital Adequacy Ratio (CAR) BPRS-CM memang naik dari 77,16 persen menjadi 77,73 persen per Juni 2025. Angka fantastis ini jauh melampaui batas minimal OJK sebesar 8 persen. Tapi di balik itu, bank milik daerah ini justru menunjukkan gejala “mati suri” dalam fungsi intermediasi.

dindikbud
dinsos
baznas cilegon

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

“Permodalan kita kuat, tapi dana hanya ngendon. Bank belum sanggup menyalurkan pembiayaan produktif. Ini bukan bank pembangunan, ini bank tidur!” tegas Rahmatulloh dalam nada geram.

Pembiayaan Bermasalah, Bank Dibiarkan Berdarah

Lebih parah lagi, rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) masih mencengkeram di angka mematikan. Meskipun turun tipis dari 16,46 persen ke 16,32 persen, angkanya tetap tiga kali lipat dari ambang sehat OJK, yang hanya 5 persen.

“NPF di atas lima belas persen itu bencana. Manajemen lalai, risiko gagal bayar dibiarkan membengkak, nasabah potensial kabur. Ini bank atau ladang kerugian?” sembur Rahmatulloh.

Situasi makin suram dengan Return on Assets (ROA) yang masih mencatat angka negatif. Meski ada penurunan kerugian dari minus 5,76 persen menjadi minus 5,31 persen, itu artinya aset bank terus merugi.

“Aset bank tidak menghasilkan laba. Ini bank bukan sedang berproses sehat, tapi sedang menuju jurang. Manajemen harus dituntut pertanggungjawaban!” katanya tajam.

BOPO Bengkak, Likuiditas Loyo

Rahmatulloh juga menyoroti BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) yang tetap membengkak di angka 161,82 persen. Meskipun menurun dari 168,31 persen, angka ini menunjukkan pengeluaran operasional jauh lebih besar daripada pemasukan.

“BOPO setinggi itu tanda manajemen bobrok. Bank ini ibarat ember bocor: terus diisi, tapi air habis sebelum bisa dipakai,” ketusnya.

Sementara itu, cash ratio hanya naik sedikit dari 4,49 persen ke 5,41 persen—masih sangat rendah dan menunjukkan likuiditas yang rapuh.

“Likuiditas bank ini kritis. Dalam keadaan terdesak, bank bisa kehabisan napas,” ujar Rahmatulloh.

Desakan Mundur dan Evaluasi Total Direksi

Dalam pernyataan resminya, Rahmatulloh mengultimatum agar segera ada pergantian direksi. Ia menyebut kepemimpinan saat ini lumpuh, lamban, dan kehilangan arah.

“Bank butuh direksi baru sekarang juga. Kalau tidak, BPRS-CM hanya tinggal nama, kepercayaan publik sudah di ujung tanduk,” tegasnya.

Ia juga menuntut Wali Kota Cilegon segera menerbitkan SK penempatan dana oleh OPD untuk mendukung likuiditas, serta mendesak seluruh BUMD memperkuat kepercayaan publik dengan menambah deposito.

Rahmatulloh menyerukan evaluasi total terhadap direksi dan dewan komisaris sebagai langkah darurat restrukturisasi.

“Kursi komisaris bukan tempat tidur empuk. Mereka harus tanggung jawab atas kehancuran ini!” serunya lantang.

Pemegang Saham Dinilai Acuh, Bank Diambang Pengawasan Khusus

Menurutnya, penyelamatan bank harus dimulai dengan menyusun Rencana Penyehatan Keuangan, mempercepat reformasi internal, dan mengaktifkan pengawasan aktif dari para pemilik saham.

“Pemegang saham jangan jadi penonton. Kalau tetap bungkam, maka runtuhlah BPRS-CM. Kepercayaan publik lenyap, status pengawasan kembali diberlakukan OJK, dan Cilegon kehilangan wajah di sektor keuangan,” tegas Rahmatulloh.

Ia menutup pernyataannya dengan pesan tajam kepada seluruh pihak terkait, termasuk otoritas perbankan dan Pemerintah Kota Cilegon.

“Cilegon butuh BPRS yang sehat, bukan BPRS yang sekadar jadi beban. Kalau tidak berubah sekarang, bank ini tinggal menunggu waktu bangkrut!” tutupnya.

(red).

Example 120x600