Oleh: Hairullah
Hari ini, matahari bersinar hangat, seolah turut merayakan ulang tahun putriku yang ketiga. Namanya Kasyifa. Putri kecilku, cahaya dalam setiap langkah perjuanganku. Ia baru tiga tahun, tapi senyumnya sudah mampu menyembuhkan letihku sepulang bekerja.
Aku, Hairullah—bukan siapa-siapa di mata dunia. Tapi bagiku, menjadi ayah dari Kasyifa adalah kehormatan terbesar. Setiap tetes keringat yang jatuh di bawah terik matahari, setiap lelah yang kupikul di pundak, semua demi satu harapan: masa depan Kasyifa yang lebih cerah dari langit pagi ini.
“Kasyifa, nanti kalau besar mau jadi apa?” tanyaku suatu malam ketika ia duduk di pangkuanku, matanya berbinar.
Ia hanya tertawa, belum bisa menjawab dengan kata-kata. Tapi aku tahu, dalam hatinya yang kecil, sudah tertanam benih-benih harapan. Aku ingin ia tumbuh menjadi anak yang berani bermimpi, tidak takut gagal, dan selalu cinta pada ilmu.
Belajar itu tidak harus mahal. Tapi semangat belajar adalah harta paling berharga. Dan itulah yang ingin kutanamkan sejak dini. Aku tak punya warisan banyak untukmu, Nak. Tapi aku ingin mewariskan tekad, keteguhan, dan keyakinan bahwa siapa pun bisa menjadi apa pun, asal tak berhenti belajar dan berusaha.
Suatu hari nanti, mungkin Kasyifa akan berdiri di atas panggung kelulusan, mengenakan toga, tersenyum ke arahku. Atau mungkin ia akan menjadi dokter, guru, penulis, ilmuwan, atau apa pun yang ia cita-citakan. Apa pun itu, asal dari hati, aku akan mendukung sepenuh jiwa.
Anakku, ulang tahunmu yang keempat ini bukan hanya perayaan bertambahnya usia. Tapi juga pengingat bagiku, bahwa waktu berjalan cepat, dan tanggung jawabku semakin besar. Ayah tidak akan menyerah. Ayah akan terus berjuang. Karena dalam setiap langkah kecilmu, ada harapan besar yang ayah titipkan.
Selamat ulang tahun, Kasyifa Putri kecilku, Semoga Allah selalu membimbing langkahmu, menerangi jalanmu, dan menjadikanmu anak yang bermanfaat bagi banyak orang.


Cilegon, 06 Juni 2025
Dengan cinta,
Ayahmu, Hairullah























