Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
Rubrik Opini

Kritik Mang IL Terhadap Ketimpangan Pembangunan Kota Cilegon

×

Kritik Mang IL Terhadap Ketimpangan Pembangunan Kota Cilegon

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


CILEGON, JURNALKUHP.COM – Seiring dengan riuhnya berbagai proyek pembangunan yang tengah berlangsung di Kota Cilegon, warga melalui berbagai media tidak ketinggalan untuk memberikan kritik dan refleksi. Salah satunya adalah unggahan cerpen karya Mang IL yang kini menjadi sorotan publik. Cerpen berjudul “Perahu Retak” tersebut menyuarakan keprihatinan terhadap ketimpangan yang muncul di tengah-tengah pesatnya pembangunan, Rabu, 14 Mei 2025 sekitar pukul 00:51 WIB dini hari.

Melalui kata-kata puitis yang penuh makna, Mang IL menggambarkan perjalanan “perahu negeri” yang seolah membawa rakyat menuju kesejahteraan. Namun, seiring perjalanan, perahu itu mulai retak, simbol dari ketimpangan sosial dan ekonomi yang semakin terlihat jelas.

20 Mei 2026,_20260530_165315_0000

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

Dalam cerpen tersebut, Mang IL mengkritik keras sikap yang mempertahankan yang salah, sementara yang benar malah disingkirkan. “Yang salah dipertahankan, yang benar disingkirkan,” ungkapnya dengan nada yang mengajak untuk merenung lebih dalam. Ia juga menyoroti fenomena keserakahan yang semakin diagungkan di tengah kesulitan yang dihadapi sebagian besar masyarakat.

“Satu kenyang, seribu kelaparan,” menjadi sindiran tajam dalam cerpen ini. Pesan yang ingin disampaikan jelas: jangan biarkan ketimpangan menggerogoti tanah air yang seharusnya menjadi tempat bagi seluruh rakyat untuk hidup sejahtera.

Mang IL dalam ungkapannya juga menekankan pentingnya rasa keadilan, khususnya terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam yang harus dibagi dengan adil. “Tanah pertiwi anugerah Ilahi, jangan ambil sendiri,” tulisnya, seraya mengingatkan bahwa alam dan kekayaan negeri adalah hak bersama, bukan milik segelintir orang.

Kritik ini menjadi salah satu suara penting dari masyarakat yang peduli dengan pembangunan Kota Cilegon yang lebih berkeadilan. Meski pembangunan tak bisa dihentikan, suara-suara kritis seperti ini menjadi pengingat agar setiap langkah pembangunan tetap memperhatikan kesejahteraan rakyat, bukan hanya segelintir orang.

Dengan karya ini, Mang IL berhasil menyuarakan keresahan yang ada di masyarakat melalui puisi yang menggugah. Pesannya sangat jelas: pembangunan bukan hanya soal beton dan proyek, tapi soal bagaimana rakyat bisa merasakan manfaatnya secara merata.

Lampiran Asli:

Perahu Retak

 

Untuk Cilegon yang sedang ribut proyek 😄🫣🤤

 

🕷️🦀🎤🎼

 

Perahu negeriku perahu bangsaku

Menyusuri gelombang

Semangat rakyatku kibar benderaku

Menyeruak lautan

Langit membentang cakrawala di depan

Melambaikan tantangan

 

Di atas tanahku dari dalam airku

Tumbuh kebahagiaan

Di sawah kampungku di jalan kotaku

Terbit kesejahteraan

Tapi ku heran di tengah perjalanan

 

Muncullah ketimpangan

Aku heran aku heran

Yang salah dipertahankan

Aku heran aku heran

Yang benar disingkirkan

Perahu negeriku perahu bangsaku

Jangan retak dindingmu

Semangat rakyatku derap kaki tekadmu

Jangan terantuk batu

 

Tanah pertiwi anugerah Ilahi

Jangan ambil sendiri

Tanah pertiwi anugerah Ilahi

Jangan makan sendiri

Aku heran aku heran

Satu kenyang seribu kelaparan

 

Aku heran aku heran

Keserakahan diagungkan

Aku heran aku heran

Yang salah dipertahankan

Aku heran aku heran

Yang benar disingkirkan.

 

 

 

(Redaksi Jurnal KUHP).

Example 120x600