Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
Artikel UmumRubrik OpiniSosial

Kisah Pengabdian: Napak Tilas Ade Maftuhi dan Rumah Pintar Kreasi

×

Kisah Pengabdian: Napak Tilas Ade Maftuhi dan Rumah Pintar Kreasi

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


Pegiat Sosial dan Pendiri Yayasan Rumah Pintar Kreasi

Oleh: Ade Maftuhi

20 Mei 2026,_20260530_165315_0000

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

Sejak kecil, hidup tidak pernah memberikan kemewahan kepada saya. Kehidupan mengajarkan saya tentang kerasnya jalanan jauh lebih cepat daripada sekolah mana pun. Sejak 1997, saya menjalani hidup sebagai pengamen, melanglang buana dari sudut kota ke sudut lainnya tanpa arah dan tujuan yang jelas. Jalanan menjadi guru pertama saya: mengajarkan bagaimana bertahan, bagaimana menghargai manusia lain, dan bagaimana menata hati ketika hidup tidak berpihak.

Bertahun-tahun kemudian, setelah banyak jatuh dan bangun, saya merasakan panggilan jiwa yang tak bisa ditolak. Saya mulai terjun dalam kegiatan sosial sejak 2017, sesuatu yang awalnya sederhana saja: keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Dari situlah kemudian lahir Yayasan Rumah Pintar Kreasi, sebuah wadah kecil yang berdiri bukan dari keberlimpahan, melainkan dari keberanian dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jembatan martabat—terutama bagi anak-anak dari keluarga sederhana, seperti saya dulu.

Meski memimpin sebuah yayasan, hidup saya tetap sederhana. Setiap hari saya tetap menjadi pengamen jalanan untuk menafkahi keluarga. Kadang saya menjadi kuli proyek. Saya pernah aktif di beberapa kelembagaan sosial di Kota Cilegon. Namun apa pun pekerjaannya, arah hidup saya tetap sama: mengikuti panggilan jiwa untuk memberdayakan masyarakat, terutama mereka yang nyaris tak diberi ruang dalam sistem.

Melalui aktivitas mengamen, saya sering berjumpa dengan banyak keadaan manusia. Di sela-sela pekerjaan itu, saya ikut terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan—karena saya merasa berada di antara mereka adalah jati diri saya. Namun itu pun belum cukup bagi hati saya. Saya ingin tinggal bersama masyarakat, mendengar keluh mereka, menemukan solusi bersama, dan menjadi bagian dari perubahan kecil. Keinginan itu akhirnya tersalurkan ketika saya memberanikan diri mendirikan ruang belajar dan kegiatan kemandirian, meski semua dilakukan tertatih-tatih dengan segala keterbatasan.

Hidup di kota dengan spirit khas anak desa, sebenarnya itulah rumah bagi jiwa saya. Saya bukan sarjana. Saya tidak datang dari perguruan tinggi atau pendidikan formal yang hebat. Pengetahuan saya berasal dari pengalaman jalanan bertahun-tahun, dari percakapan sederhana yang jujur, dari penderitaan yang ditempa menjadi hikmah. Kadang saya merasa seperti burung yang dilepaskan dari sangkar ke hutan lepas—bebas, tapi juga bingung harus mulai dari mana. Nafas kehidupan pun sering terasa sesak akibat keadaan ekonomi dan sosial yang tak selalu ramah. Kearifan lokal yang dulu saya pegang erat kini sering hanya menjadi kenangan yang hadir di mimpi saat tubuh lelah tertidur.

Namun dari perjalanan panjang itu, saya selalu menyimpan dua nasihat untuk generasi setelah saya:

Pertama, meskipun kita bodoh, biarlah kebodohan itu hanya kita yang merasakannya.
Jangan sampai orang lain ikut menerima dampak dari kebodohan kita. Jadikan keterbatasan sebagai cambuk untuk belajar, bukan alasan untuk menyakiti atau merugikan orang lain.

Kedua, meskipun kita miskin, jangan biarkan hati kita ikut miskin.
Kita boleh kekurangan harta, tetapi jangan pernah kekurangan keikhlasan, kepedulian, dan martabat. Karena kemiskinan yang sebenarnya adalah ketika hati kita kehilangan harga diri.

Sejarah hidup saya bukan cerita tentang keberhasilan besar, tetapi tentang perjuangan kecil yang tidak pernah berhenti. Rumah Pintar Kreasi bukan kisah tentang kemewahan fasilitas, melainkan tentang niat untuk memberi kesempatan bagi anak-anak yang mungkin tidak pernah diperhitungkan. Saya percaya bahwa pendidikan—dengan segala bentuknya—adalah jembatan bagi setiap anak untuk meraih martabat dan masa depan yang lebih baik.

Jika saya, seorang pengamen jalanan dengan pengetahuan yang terbatas, bisa bermimpi dan berbuat sesuatu, maka generasi berikutnya harus berani bermimpi jauh lebih besar. Karena sejarah tidak ditulis oleh mereka yang sempurna, tetapi oleh mereka yang berani melangkah meski dengan bekal yang sederhana.

 

Example 120x600