CILEGON, JURNALKUHP.COM — Upaya pelestarian budaya lokal kembali mendapat ruang melalui film dokumenter Golok Pusaka Abah Jamhari yang resmi tayang di Ramayana Cinema, Kota Cilegon.

Film ini mengangkat perjalanan hidup Abah Jamhari, seorang maestro budaya yang konsisten menjaga warisan pencak silat dan filosofi golok Cilegon sebagai simbol jati diri masyarakat Banten.


Disutradarai oleh Darwin, film dokumenter ini tidak hanya menyajikan kisah personal tokoh budaya, tetapi juga merekam nilai-nilai luhur yang terkandung dalam golok pusaka, mulai dari makna sejarah, fungsi sosial, hingga pesan moral yang diwariskan lintas generasi.


Film ini diharapkan menjadi jembatan antara tradisi leluhur dan generasi muda di tengah arus modernisasi.



Dalam wawancara di Studio Film Ramayana, Rabu (28/1/2026), Darwin mengatakan bahwa film ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap budaya lokal.

“Banyak orang mengenal golok Cilegon sebagai benda pusaka, tetapi belum memahami makna, sejarah, dan filosofinya.
Padahal, di balik itu semua terdapat nilai kehidupan yang sangat kuat. Karena itu kami membuat film ini agar karya dan perjuangan Abah Jamhari tidak hilang ditelan zaman,” ujar Darwin.


Ia berharap film tersebut dapat diterima masyarakat luas dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk menjaga serta merawat kebudayaan sebagai kekayaan daerah yang tidak ternilai.
Putri Abah Jamhari, Dewi, mengaku terharu sekaligus bangga atas hadirnya film tersebut.
Menurutnya, film ini menjadi pengingat bahwa budaya harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
“Kami hanya meneruskan apa yang telah diwariskan Abah. Semoga film ini bisa membuat anak-anak muda semakin mencintai seni dan budaya Kota Cilegon, karena sesungguhnya kekayaan budaya kita sangat luar biasa,” ungkap Dewi.
Sementara itu, Camat Ciwandan Agus Aryadi memberikan apresiasi tinggi kepada Abah Jamhari dan tim produksi film yang telah mengangkat budaya lokal ke layar lebar.
Ia menilai film ini tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata budaya.
“Kami sangat bersyukur budaya Ciwandan bisa diangkat menjadi film dokumenter.
Ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat sekaligus motivasi bagi generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Kota Cilegon.
Kedepan, kami berharap padepokan Abah Jamhari dapat menjadi destinasi wisata budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat lokal,” ujar Agus.
Sebagai penutup camat ciwandan Agus Aryadi Dengan hadirnya film Golok Pusaka Abah Jamhari, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal golok sebagai simbol tradisi, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya serta terdorong untuk terus menjaga dan menghidupkan budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter: Shinta Berlian
Editor: Redaksi























