CILEGON, JURNALKUHP.COM – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Cilegon yang berlangsung pada Senin (27/04/2026) mendadak diwarnai aksi protes dari dua mahasiswa yang menerobos area kursi tamu undangan. Insiden tersebut sempat menghentikan jalannya acara, tepat saat Wali Kota Cilegon tengah menyampaikan sambutan resmi.

Berdasarkan pantauan tim Jurnal KUHP di lokasi, kedua mahasiswa tersebut tiba-tiba masuk ke area tengah dengan membawa spanduk berisi kritik terhadap kinerja Pemerintah Kota Cilegon. Mereka kemudian berteriak lantang, menarik perhatian seluruh tamu yang hadir.
“Ngetuk! Cilegon gagal juare! Cilegon darurat pengangguran! Cilegon juare pengangguran tertinggi ketiga se-Banten!” teriak salah satu mahasiswa sambil mengangkat spanduk.
Aksi tersebut membuat suasana acara yang sebelumnya berlangsung khidmat berubah tegang. Wali Kota yang sedang memaparkan capaian kinerja pemerintah selama satu tahun terakhir sempat menghentikan sambutannya beberapa saat.

Tak hanya isu pengangguran, mahasiswa lainnya juga menyuarakan kritik terkait sektor pendidikan di Kota Cilegon. Ia menilai pemerintah belum serius dalam meningkatkan akses pendidikan, khususnya terkait program beasiswa dan kesejahteraan tenaga pengajar madrasah.
Diketahui, kedua mahasiswa tersebut merupakan bagian dari DPD GEMA (Gerakan Mahasiswa) Al-Khairiyah Kota Cilegon, masing-masing bernama Raka Al-Rasyid dan Bustomi.
Dalam wawancara dengan tim Jurnal KUHP usai kejadian, Raka Al-Rasyid mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah kota yang dinilai tidak konsisten dalam menepati janji politik, khususnya dalam menekan angka pengangguran.
“Pemerintah sudah membohongi masyarakat. Janjinya akan menekan angka pengangguran, tapi hasilnya selama setahun ini justru menjadikan Cilegon sebagai salah satu daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Banten,” ujarnya.
Sementara itu, Bustomi menyoroti kebijakan di sektor pendidikan yang menurutnya justru membatasi akses masyarakat. Ia menyinggung soal kuota beasiswa yang dinilai terbatas serta janji peningkatan honor guru madrasah yang belum terealisasi.
“Pendidikan di Cilegon telah diabaikan. Penerima beasiswa dibatasi jumlahnya, bahkan janji untuk menaikkan honor guru madrasah juga tidak ditepati,” kata Bustomi.
Tak lama setelah aksi berlangsung, petugas keamanan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Cilegon segera mengamankan kedua mahasiswa tersebut dan membawa mereka keluar dari lokasi acara. Situasi pun berangsur kondusif dan rangkaian perayaan HUT ke-27 Kota Cilegon kembali dilanjutkan.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah momentum perayaan hari jadi kota, yang seharusnya menjadi ajang refleksi dan apresiasi atas capaian pembangunan. Aksi tersebut sekaligus mencerminkan adanya ruang kritik dari kalangan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah kota, khususnya terkait isu pengangguran dan pendidikan yang masih menjadi perhatian publik.
Reporter: Ade Maftuhi.























