CILEGON, JURNALKUHP.COM – Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menggunakan bottom ash sebagai bahan penimbun sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, setelah mendapat teguran dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait penggunaan metode open dumping yang telah lama diterapkan di lokasi tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk mengatasi keterbatasan anggaran dalam pengadaan tanah yang diperlukan untuk penutupan sampah di TPSA Bagendung. “Dengan anggaran yang terbatas, bottom ash bisa menjadi alternatif pengganti tanah. Pasokan bottom ash yang melimpah dari PLTU Suralaya diharapkan dapat mempercepat penutupan sampah dan mengurangi penggunaan tanah yang harus dibeli serta diangkut,” ujarnya.

Namun, rencana ini menuai berbagai tanggapan, terutama dari kalangan aktivis lingkungan dan masyarakat yang khawatir tentang potensi risiko penggunaan bottom ash tanpa pengelolaan yang memadai.
Mohd Rizqi Baidullah, seorang aktivis muda Cilegon yang telah dikenal atas perjuangannya dalam isu keberlanjutan dan industri hijau, menilai bahwa penggunaan bottom ash tidak selalu menjanjikan penghematan biaya dalam jangka panjang. Menurut Rizqi, penggunaan bottom ash justru berpotensi menambah biaya tak terduga, terutama dalam hal pengelolaan risiko lingkungan yang ditimbulkan.

“Walaupun bottom ash mungkin terlihat lebih murah pada awalnya, jika tidak dikelola dengan benar, material ini bisa menimbulkan risiko pencemaran tanah dan air, serta membahayakan kesehatan akibat debu halus yang bisa terlepas ke udara. Bottom ash yang berasal dari PLTU Suralaya berpotensi mengandung bahan berbahaya seperti logam berat, yang bisa mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan manusia serta ekosistem sekitar,” ujar Rizqi.

Lebih lanjut, Rizqi mengingatkan bahwa tanpa pengelolaan yang ketat, penggunaan bottom ash bisa justru meningkatkan biaya operasional. “Jika bottom ash tidak dikelola dengan baik, kita mungkin harus menambah lapisan tanah di atasnya untuk mencegah pencemaran, yang pada akhirnya justru akan menambah biaya operasional,” tambahnya.
Di samping itu, Rizqi juga menyoroti potensi bahaya lainnya, seperti produksi gas berbahaya seperti metana dan amonia yang bisa terbakar jika tidak ada sistem ventilasi yang memadai. “Pencemaran udara yang dihasilkan bisa membahayakan kesehatan warga sekitar jika tidak ada pemantauan yang baik,” tegasnya.
Dalam menghadapi masalah pengelolaan sampah, Rizqi menekankan pentingnya solusi yang lebih berkelanjutan. “Penting bagi kita untuk fokus pada pengurangan sampah sejak awal, mempercepat program daur ulang, serta komposting. Dengan teknologi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, kita bisa mengurangi ketergantungan pada TPA dan dampak negatif terhadap lingkungan,” ujar Rizqi.
Meskipun rencana penggunaan bottom ash menawarkan beberapa keuntungan jangka pendek dalam hal efisiensi biaya dan pemanfaatan material yang ada, hal ini membawa risiko yang harus dikelola dengan cermat untuk menghindari masalah lingkungan dan kesehatan yang lebih besar di masa depan.
Pemerintah Kota Cilegon diharapkan dapat melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai pengelolaan bottom ash, serta mencari solusi yang tidak hanya mengurangi biaya operasional tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dalam jangka panjang.
Reporter: Bagus R
Editor: Fri Septa – Biro Kota Cilegon























