BANTEN, JURNALKUHP.COM – Pemprov Banten terjerat utang yang sangat besar, mencapai Rp800 miliar kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) akibat proyek ambisius yang kini terbengkalai. Utang ini merupakan warisan dari era kepemimpinan Wahidin Halim untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang timbul akibat pandemi Covid-19, namun tidak memberikan manfaat yang jelas bagi masyarakat Banten.
Pada tahun 2020, kondisi keuangan Pemprov Banten sangat tertekan, dengan kas daerah Rp1,9 triliun yang terkunci di Bank Banten. Meski begitu, proyek infrastruktur besar seperti Banten Internasional Stadium (BIS) tetap dipaksakan berjalan, meskipun kondisi stadium kini sangat memprihatinkan—terbengkalai dan dipenuhi semak belukar.
Utang yang telah dicicil sejak 2021 hanya berhasil mengurangi sedikit beban, dengan pembayaran pada 2021 sebesar Rp8,9 miliar, dan pada 2022 serta 2023 masing-masing Rp34,6 miliar dan Rp138 miliar. Meskipun demikian, pada 2024 sisa utang yang masih harus dilunasi mencapai Rp414 miliar dan diperkirakan akan dilanjutkan oleh Gubernur terpilih Andra Soni hingga 2028 dengan pembayaran cicilan Rp138 miliar setiap tahunnya.
Komika Ernest Prakasa menanggapi pembangunan stadium yang kini terbengkalai dengan kritikan pedas. Dalam cuitannya, Ernest menyindir penggunaan dana sebesar itu yang menurutnya lebih baik digunakan untuk program bantuan langsung tunai (BLT) atau renovasi sekolah, yang tentu lebih bermanfaat bagi masyarakat daripada proyek stadion yang kini tidak berguna.
“Jika uang itu dibagi sebagai BLT, bayangkan berapa banyak keluarga yang akan terbantu,” ujar Ernest, menambahkan bahwa perencanaan pembangunan stadium ini “sinting” karena tidak memberikan manfaat apapun selain menjadi beban utang yang terus menumpuk.
Pemerintah Provinsi Banten kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa proyek besar ini menjadi simbol pemborosan anggaran yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lebih mendesak bagi rakyat Banten.
Editor: ZM (Pimpinan Redaksi)





















