LEBAK, JURNALKUHP.COM – Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3A-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, mendapat perhatian setelah adanya sorotan terhadap proses pemasangan batu tapak pada saluran irigasi yang dinilai perlu dievaluasi dari sisi teknis pekerjaan.
Berdasarkan hasil pemantauan di lokasi kegiatan P3A Gunung Tanjung Berkah dengan nilai pekerjaan sebesar Rp195 juta, terlihat proses pemasangan batu dilakukan saat kondisi saluran masih terdapat air dan lumpur. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran sejumlah pihak terkait kualitas dan kekuatan konstruksi apabila tahapan pekerjaan tidak dilakukan sesuai standar teknis yang berlaku.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Sumurbandung, Budi, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi pekerjaan.
“Coba kin saya cek lokasi,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Rabu (24/6/2026).
Budi menjelaskan bahwa sebelumnya dirinya telah memberikan arahan kepada pihak pelaksana agar memperhatikan tahapan pekerjaan.
“Kemarin siang saya sudah wanti-wanti kepada yang bekerja, supaya digali dulu,” katanya.
Ia menegaskan telah memberikan teguran kepada pengurus P3A agar pelaksanaan kegiatan lebih memperhatikan kualitas hasil pembangunan.
“Sudah ditegur ku abdi tadi para pengurus P3A-nya, supaya anu damel memperhatikan kualitas padamelan. Terima kasih sudah mengingatkan,” ungkap Budi.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur irigasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan pekerjaan yang baik dan sesuai dengan ketentuan teknis.
“Pada prinsipnya abdi hoyong hasil bangunan anu sae dan sesuai kaidah,” ujar Budi.
Budi juga menyampaikan apresiasi kepada pihak media yang turut melakukan fungsi kontrol sosial dalam membantu pemerintah melakukan evaluasi sejak dini.
“Terimakasih kepada teman-teman media yang sudah membantu pemerintah pusat, khususnya Kementerian PUPR – BBWS C3, dalam evaluasi sejak dini,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua P3A Desa Sumurbandung, Saomin, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut tidak dilakukan secara asal-asalan.
“Waalaikumsalam. Itu mah bukan asal-asalan, Pak. Mungkin karena memang itu belum dikasih adukan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Ruswa Ilahi selaku Korwil Ormas Badak Banten menyampaikan bahwa setiap tahapan pekerjaan tetap harus diperhatikan agar hasil pembangunan memiliki kualitas dan daya tahan yang baik.
“Kalau memang belum diberikan adukan, kenapa batu sudah dipasang? Seharusnya air dikeringkan terlebih dahulu, lumpurnya dibersihkan atau digali, kemudian diberikan adukan semen dan baru dipasang batu agar lebih kuat,” kata Ruswa.
Menurutnya, pekerjaan yang menggunakan anggaran negara harus dilaksanakan dengan memperhatikan standar teknis agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kalau pemasangan dilakukan dalam kondisi masih berlumpur, bagaimana memastikan konstruksinya kuat dan bertahan lama? Program ini menggunakan anggaran negara, sehingga kualitas pekerjaan harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait masih diharapkan memberikan penjelasan lebih lanjut terkait metode pelaksanaan pekerjaan serta pengawasan kegiatan P3A-TGAI di Desa Sumurbandung.
(Red





















