CILEGON, JURNALKUHP.COM – Pemerintah Kota Cilegon mulai menggeser arah kebijakan ekonominya ke jalur yang lebih agresif dengan mendorong Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar naik kelas dan berperan lebih strategis dalam menopang perekonomian daerah.
Langkah tersebut ditegaskan Wali Kota Robinsar saat menghadiri agenda Riung Mungpulung dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Cilegon, Senin (27/4/2026). Dalam wawancara usai kegiatan, ia mengungkapkan rencana konkret yang cukup berani, yakni pengadaan dua kapal untuk mendukung ekspansi bisnis daerah di sektor logistik.

“Tahun ini kita akan membeli dua kapal sebagai bagian dari pengembangan usaha PT PCM,” ujar Robinsar.
Menurutnya, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Pemkot untuk tidak lagi hanya bergantung pada sektor industri besar, melainkan mulai mengoptimalkan potensi ekonomi lain yang selama ini belum dikelola maksimal oleh daerah.
Cilegon sendiri dikenal sebagai kota industri dengan aktivitas logistik yang tinggi. Arus keluar-masuk barang menjadi urat nadi ekonomi, namun penguasaan sektor tersebut masih didominasi oleh pihak luar. Melalui penguatan BUMD, Pemkot ingin mengambil peran lebih besar dalam rantai distribusi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Robinsar juga menyinggung fondasi kebijakan masa lalu pada era kepemimpinan almarhum H. TB Aat Syafaat yang dikenal sebagai “wali sepuh”. Ia menyebut keberanian pemerintah saat itu dalam menyediakan lahan untuk pengembangan PT PCM menjadi pijakan penting bagi langkah saat ini.
“Dulu pemerintah berani mengambil langkah besar. Itu menjadi fondasi penting,” katanya.
Kini, semangat keberanian tersebut coba dihidupkan kembali, namun dengan pendekatan berbeda. Jika sebelumnya fokus pada pengembangan darat, kini ekspansi diarahkan ke sektor maritim melalui penguatan armada logistik.
Rencana pengadaan dua kapal ini dinilai bukan sekadar proyek pengadaan biasa, melainkan sebuah langkah strategis yang sarat konsekuensi. Di satu sisi, sektor logistik dan transportasi laut menawarkan peluang besar mengingat posisi geografis Cilegon yang strategis, dekat dengan pelabuhan dan jalur distribusi utama nasional.
Namun di sisi lain, sektor ini juga memiliki tantangan yang tidak ringan, mulai dari kebutuhan modal besar, kompleksitas operasional, hingga persaingan dengan perusahaan swasta yang telah lebih dahulu mapan.
“Di titik ini, profesionalisme BUMD akan sangat diuji,” tegas Robinsar.
Pemkot Cilegon menaruh harapan besar pada transformasi BUMD sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selama ini, struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor tertentu dinilai membuat daerah rentan terhadap fluktuasi.
Melalui ekspansi ini, pemerintah berharap tidak hanya mampu meningkatkan PAD, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Lebih jauh, Robinsar menekankan bahwa transformasi BUMD tidak hanya berhenti pada ekspansi bisnis, tetapi juga harus dibarengi dengan perbaikan tata kelola yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Di usia ke-27, Kota Cilegon kini dihadapkan pada pilihan penting: mempertahankan pola lama atau berani melakukan lompatan besar dalam pengelolaan ekonomi daerah.
Rencana pembelian dua kapal menjadi simbol arah baru tersebut. Sebuah langkah yang akan menguji sejauh mana keseriusan Pemkot dalam menjadikan BUMD sebagai tulang punggung ekonomi.
Pertanyaannya kini, apakah langkah ini akan menjadi terobosan nyata atau sekadar ambisi di atas kertas?
Waktu yang akan menjawab. Namun harapan masyarakat jelas—agar dua kapal yang direncanakan itu benar-benar mampu membawa manfaat dan kesejahteraan bagi warga Cilegon.
Reporter: Ade Maftuhi























