CILEGON, JURNALKUHP.COM — Di sudut-sudut kota yang terus tumbuh dengan pembangunan fisik, ada ruang-ruang kecil tempat harapan masyarakat dibangun perlahan: ruang belajar, ruang bermain, ruang tumbuh—seringkali dikelola bukan oleh pemerintah, melainkan oleh hati-hati yang memilih peduli. Salah satunya adalah Yayasan Rumah Pintar Kreasi, yang didirikan oleh
Ade Maftuhi, seorang pegiat sosial yang memaknai pendidikan sebagai jembatan martabat bagi anak-anak dari keluarga sederhana.
Namun di balik aktivitas yang tampak cerah itu, ada kenyataan getir yang selama ini jarang terdengar.

Karena Kemanusiaan Tidak Bisa Menunggu Anggaran
Menurut Ade Maftuhi, perhatian Pemerintah Kota Cilegon terhadap kegiatan pendidikan nonformal memang ada, namun belum menyentuh ruang yang paling rentan: kegiatan sosial berbasis kerelawanan yang berdiri sendiri tanpa sokongan anggaran. Padahal, kata Ade, pendidikan nonformal merupakan pilar kemandirian yang sangat dibutuhkan oleh anak dan remaja yang tidak tersentuh aktivitas formal.
“Kegiatan seperti kami ini berdiri bukan karena ingin dikenal, tapi karena kami tidak ingin ada anak yang tumbuh tanpa peluang,” ujarnya dengan nada lirih.
Namun idealisme saja tak cukup untuk menjaga api semangat tetap menyala.

Saat Tenaga Mulai Menipis, Ruang Belajar Terpaksa Padam Sementara
Di tengah perjuangan penuh harapan itu, Ade harus mengakui bahwa Yayasan Rumah Pintar Kreasi berada di ambang kelelahan. Relawan pengajar silih berganti datang dan pergi—bukan karena kurangnya niat, tetapi karena kebutuhan hidup yang tak bisa ditunda. Banyak dari mereka harus memikirkan bensin untuk datang mengajar, makan sehari-hari, hingga tanggung jawab keluarga.
“Sulit membuat relawan bertahan ketika tidak ada feedback apa-apa. Mereka datang dengan hati, tapi kebutuhan sehari-hari juga harus dipikirkan,” tutur Ade.
Dan kini, dengan suara yang berat, ia menyampaikan kenyataan yang paling menyakitkan: kegiatan harus ditutup sementara. Bukan karena kurangnya murid, bukan karena minimnya dukungan moral masyarakat, melainkan karena kemandirian yang dulu menjadi kekuatan kini tak lagi sanggup menopang perjalanan.
Harapan: Pemerintah Tidak Hanya Melihat, Tapi Hadir
Ade berharap, ke depan pemerintah bisa lebih membuka mata terhadap kegiatan sosial nonformal, bukan sekadar sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian penting dari pembangunan manusia di Cilegon. Menurutnya, perhatian pemerintah bukan hanya soal anggaran, tetapi soal pengakuan bahwa ruang-ruang belajar mandiri ini punya peran besar dalam membentuk karakter generasi penerus.
“Kami hanya ingin pemerintah melihat kami, mendengar kami. Bahwa kegiatan seperti ini harus dijaga, bukan dibiarkan padam karena kelelahan,” ungkapnya.
Sebuah Catatan Sosial
Di balik tutupnya sementara Rumah Pintar Kreasi, kita melihat kenyataan yang lebih besar: kerja-kerja kemanusiaan sering kali digerakkan oleh cinta, namun bertahan dengan dukungan konkret. Ketika cinta berjalan sendirian, ia pun bisa letih.
Cilegon mungkin sedang berkembang, tetapi pembangunan manusia tidak boleh berhenti. Ruang-ruang belajar seperti Rumah Pintar Kreasi adalah lentera kecil yang memberi cahaya pada anak-anak yang kurang beruntung. Dan lentera itu hanya bisa tetap menyala jika ada tangan-tangan yang bersedia menjaga—termasuk pemerintah yang seharusnya ada untuk mereka.
Karena kepedulian sosial bukan sekadar program, melainkan napas moral sebuah kota.
Redaksi.























