Scroll untuk baca berita
Example 120x600
Example 120x600
BeritaDPRD

Pidato Kenegaraan di DPRD Cilegon Diwarnai Insiden: Mahasiswa HMI Diseret Seperti Ternak Saat Kritisi Kebijakan

×

Pidato Kenegaraan di DPRD Cilegon Diwarnai Insiden: Mahasiswa HMI Diseret Seperti Ternak Saat Kritisi Kebijakan

Sebarkan artikel ini

Salinan konten sosmed agustusan
Salinan konten sosmed agustusan (3)
Iklan HUT RI 80 Advokat (2)
Iklan HUT RI 80 Advokat (3)
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.33.38
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.57.37
WhatsApp Image 2025-08-15 at 05.15.31
IMG-20250817-WA0170


CILEGON, JURNALKUHP.COM – Sejumlah mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cilegon dalam video yang beredar di sosial media tampak diseret seperti ternak oleh petugas pengamanan DPRD dan Satpol PP saat diusir dari ruang sidang paripurna DPRD Kota Cilegon, Jumat (15/8/2025). Aksi tersebut pecah saat mereka memprotes tingginya angka kemiskinan di tengah gelontoran investasi industri triliunan rupiah.

Insiden bermula saat Ketua DPRD Rizki Khairul Ikhwan baru membuka sidang paripurna untuk mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto. Mahasiswa masuk ruang sidang, mengibarkan poster, dan berorasi lantang. Mereka menuding DPRD terlalu sibuk menjaga citra pemerintah kota dan tidak menjalankan fungsi pengawasan secara kritis.

20 Mei 2026,_20260530_165315_0000

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H. Beserta Staf dan Jajaran Mengucapkan Dirgahayu K.heic

“DPRD jangan hanya jadi tukang stempel kebijakan pemerintah. Kalian dipilih rakyat, bukan pengusaha. Kalau rakyat miskin, itu tanggung jawab kalian juga!” teriak salah satu orator aksi sebelum diseret keluar gedung.

Lebih lanjut, Mahasiswa menilai DPRD gagal mengawal kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat kecil. Mereka mencontohkan, meski realisasi investasi industri di Cilegon mencapai lebih dari Rp119 triliun, angka kemiskinan masih bertahan di 24,93% berdasarkan data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.

“Cilegon ini kota industri, tapi rakyatnya belum merdeka secara ekonomi. Kalau DPRD diam saja, artinya kalian ikut melanggengkan ketimpangan,” sindir salah satu peserta aksi.

Dalam pernyataannya kepada awak media, Ketua DPRD Rizki Khairul Ikhwan mengatakan pihaknya memahami aspirasi mahasiswa, namun menegaskan bahwa sidang paripurna memiliki tata tertib yang harus dihormati. “Kami tetap terbuka menerima masukan, tapi sebaiknya disampaikan melalui mekanisme resmi agar bisa kami bahas secara tuntas,” ujarnya.

Catatan Redaksi

Kritik mahasiswa kepada DPRD Cilegon bukan sekadar soal kemiskinan, tapi juga soal legitimasi peran wakil rakyat dalam mengawal kepentingan publik. Ketika DPRD dinilai terlalu mesra dengan pemerintah eksekutif dan investor, risiko abainya fungsi pengawasan semakin besar. Di mata publik, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah DPRD Cilegon benar-benar menjadi benteng rakyat atau sekadar pagar pelindung kebijakan pemerintah?

 

Editor: Redaksi Jurnal KUHP.

Example 120x600