CILEGON, JURNALKUHP.COM – Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Kesehatan melaksanakan program Active Case Finding (ACF) atau Penemuan Kasus Tuberkulosis (TBC) secara aktif dengan metode pemeriksaan radiografi toraks. Kegiatan ini menargetkan populasi dengan risiko tinggi TBC dan telah berhasil menyaring sebanyak 2.450 orang di seluruh kecamatan se-Kota Cilegon, sejak dimulainya program pada 25 Februari hingga 17 April 2025.
Program ACF merupakan upaya strategis untuk menanggulangi penyebaran TBC dengan cara mendeteksi kasus lebih dini. Pemeriksaan dilakukan melalui skrining massal, diagnosis aktif, dan pemberian terapi secara cepat kepada individu yang terindikasi TBC.

Tujuan utama dari program ini adalah mengurangi keterlambatan diagnosis dan memulai pengobatan sedini mungkin, sehingga dapat mencegah risiko komplikasi, gejala sisa, serta dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit TBC terhadap pasien dan keluarganya.
Kegiatan skrining massal ACF difokuskan kepada kelompok masyarakat dengan risiko tinggi, meliputi:
- Kontak serumah atau erat dengan pasien TBC aktif
- Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV)
- Penyandang Diabetes Mellitus (DM)
- Balita dengan gizi buruk dan stunting
- Perokok aktif

Target kegiatan ini adalah menjangkau 150 orang per hari dalam setiap sesi pemeriksaan, dengan total sasaran sebanyak 3.000 orang se-Kota Cilegon. Hasil pelaksanaan menunjukkan pencapaian sebesar 2.450 orang yang telah disaring melalui pemeriksaan toraks digital.
Dalam wawancara eksklusif bersama Redaksi JURNALKUHP.COM pada 19 April 2025, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, drg. Hj. Ratih Purnamasari, M.K.M., memberikan penjelasan edukatif mengenai pentingnya kegiatan ini bagi kesehatan masyarakat.
“TBC adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius. Namun, dengan deteksi dini, kita bisa mengobati dan mencegah penularan. Program ACF bukan hanya kegiatan teknis, tetapi bentuk nyata dari keberpihakan pemerintah terhadap hak masyarakat untuk hidup sehat. Kami berharap, melalui skrining ini, masyarakat makin sadar pentingnya pemeriksaan rutin dan tidak menyepelekan gejala batuk berkepanjangan,” jelas drg. Ratih.
Ia juga menambahkan bahwa ACF dapat diintegrasikan dengan program lain seperti pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) dan penjaringan kusta, guna memperluas jangkauan dan efektivitas pelayanan kesehatan di lapangan.
Lebih lanjut, drg. Ratih mengajak seluruh masyarakat untuk proaktif memeriksakan diri apabila memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC atau masuk dalam kelompok risiko.
“Kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah sudah membuka akses seluas-luasnya untuk deteksi dan pengobatan. Tinggal bagaimana masyarakat merespons dengan kesadaran dan kepedulian,” tutupnya.

Dengan capaian yang hampir mendekati target, Dinas Kesehatan Kota Cilegon optimis dapat memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap TBC dan menekan angka penularan di masa mendatang. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen Kota Cilegon dalam mendukung eliminasi TBC di Indonesia tahun 2030.
.Redaksi Jurnal KUHP






















