CILEGON, JURNALKUHP.COM β Pemadaman listrik yang berlangsung selama dua hari di Masjid Agung Cilegon akhirnya berakhir, setelah pihak PLN menghubungi dan menyelesaikan masalah pembayaran yang tertunda. “Alhamdulillah, masjid Agung Cilegon listriknya sudah menyala lagi, setelah 2 hari disegel/dimatikan oleh PLN karena menunggak tagihan pembayaran listrik. Pastinya di atas 3 bulan.

Memprihatinkan ya π’,” GB meneruskan pesan singkat seseorang, seorang warga Cilegon, dalam pesan yang dibagikan ke grup WhatsApp Masyarakat Kota Cilegon.


Namun, peristiwa ini menuai beragam tanggapan dari warga. Salah satunya adalah komentar dari GB yang mengkritik pihak yang menanggapi permasalahan tersebut secara berlebihan. “Tmbkn ngebayaraken listrik mati Bae ngengkeng Koae Koar bak pahlawan nasional Bae huh..isin sih Karo wong serang gawe masjid kubah emas kaen geh ore ngengkeng ore koar koar ππ,” ujar GB, merujuk pada pihak yang membesar-besarkan masalah pemadaman ini.

Keluhan juga datang dari DN, yang merasa bahwa permasalahan ini telah disalahartikan dan justru mencoreng nama baik masyarakat setempat. “Niatnya menjelekkan pa Helldy jatuhnya malah mencoreng nama masyarakat Jombang itu sendiri… Allah Maha besar dan ga pernah tidur… Ini baru masjid yang dibuka aibnya,” keluh DN.
Sementara itu, AS, warga Cilegon lainnya, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan PLN yang terkesan terburu-buru dalam memutus aliran listrik. “Karo wong PLN ne ora due lelenged kWh masjid sampe wani wani ngejabut,” ujarnya dalam grup WhatsApp, menuding pihak PLN tidak mempertimbangkan dengan matang sebelum memutus aliran listrik ke masjid tersebut.
AH, seorang warga lainnya, menanggapi situasi ini dengan nada marah. “Ok pa Ibnu ketemu saya nanti hari Kamis yah kalau bener bapa ngomong gituπ‘π‘π‘,” tulis AH, merespons isu yang berkembang di grup WhatsApp.
FD juga mengeluhkan cara penanganan pemadaman yang menurutnya terkesan janggal. “Sepertinya semua sudah di seting, tiba-tiba robinhod maju, kalau mau cari pamor banyak yang bisa bayarin itu tunggakan listrik, laporan nya mana, kemana aja setelah 3 bulan baru muncul, dan itupun langsung dicabutπ,” keluh FD. Menurut FD, masalah ini harus segera dijelaskan dengan transparan agar tidak menimbulkan spekulasi.
Lebih lanjut, FD menyoroti ketidakjelasan komunikasi mengenai tunggakan pembayaran listrik Masjid Agung, yang seharusnya sudah dipersiapkan dengan matang. “Kan setidak-tidaknya ada pemberitahuan kalau emang belum dibayar listriknya, ini masjid agung loh, bukan rumah pribadi dan dana nya sudah pasti sudah disiapkan atau setidaknya sudah antisipasi lapor ke ketua DKM-nya, agar bisa dicarikan jalan keluarnya,” ujar FD. Ia menambahkan bahwa jika ada motif tertentu yang melibatkan pihak lain dalam insiden ini, hal tersebut sangat disayangkan. “Tapi kalau ada motif tertentu untuk menjatuhkan wali kota nggak begini caranya broo, terlalu naif dan sangat jahat sekali,” lanjutnya.
MH, warga lain yang juga terlibat dalam diskusi tersebut, mempertanyakan bagaimana pihak masjid mengelola pendapatan dari berbagai sumber. “Iye sih, memang kudu di Minta Pertanggung mslh Duite… Karena ane Pemasukan2 Wuakeh.. ‘Sewe Gudang Hajatan’, ‘Parkir Mobil Moto’, ‘Sewa Kios Warung2’… Mase pas bayar listrik lake Picise ??? Iki mh Patut di duga ane Unsur lan Kepentingan lain ???,” tegas MH, menyarankan agar ada evaluasi lebih mendalam terhadap pengelolaan dana masjid tersebut.
Terakhir, AS menegaskan perlunya penyelidikan lebih lanjut terhadap masalah ini. “Usut tuntas,” ujar AS, menutup obrolan di grup WhatsApp tersebut dengan harapan agar pihak berwenang dapat menyelidiki lebih lanjut penyebab dan solusi dari insiden pemadaman listrik yang cukup mengganggu di Masjid Agung Cilegon.
Pemadaman listrik yang terjadi di masjid ini masih menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan warga Cilegon, dengan berbagai pihak meminta agar kejadian serupa tidak terulang dan agar ada transparansi serta solusi yang jelas dalam pengelolaan pembayaran listrik di fasilitas umum seperti masjid. (*/Redaksi Jurnal KUHP).
Sumber: Grup WhatsApp Masyarakat Kota Cilegon






















