CILEGON, JURNALKUHP.COM — Gedung Graha Edi, yang berdiri megah di kawasan pusat Pemerintahan Kota Cilegon dan menjadi wajah pertama pelayanan publik, kembali menuai sorotan. Tim investigasi Jurnal KUHP menemukan sejumlah keluhan serius terkait kondisi lift yang kerap rusak dan lamban diperbaiki, sehingga mengganggu aktivitas pemerintahan dan pelayanan masyarakat.
Gedung enam lantai ini diketahui menampung lebih dari enam Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta menjadi bagian penting dari sistem pelayanan publik kota Cilegon. Namun, di balik kesan megahnya, sejumlah fakta lapangan menunjukkan adanya kelalaian dalam pemeliharaan fasilitas vital tersebut.
Warga Lansia Jadi Korban Ketidaknyamanan
Saat tim Jurnal KUHP melakukan peliputan rutin di lingkungan Pemkot Cilegon pada Rabu (8/10/2025), ditemukan seorang warga lanjut usia (lansia) yang tampak kelelahan menunggu lift di lobi gedung. Warga tersebut mengaku sudah menunggu cukup lama lantaran hanya sebagian lift yang berfungsi.
“Sudah lama nunggu. Kaki ini sudah sakit, tapi liftnya nggak jalan-jalan. Kalau begini, bagaimana orang tua seperti saya bisa urus keperluan di kantor pemerintah?” keluh warga lansia itu dengan nada lemah.
Seorang pegawai yang ditemui di lokasi membenarkan bahwa dua dari empat unit lift di gedung tersebut tidak berfungsi dengan baik.
Menurutnya, kondisi ini sudah sering terjadi, bahkan kadang lift macet di tengah perjalanan.
“Dari empat lift, dua rusak. Kadang bisa jalan, kadang mati total. Kalau sedang rusak, antrean panjang dan bikin aktivitas jadi lambat. Sudah sering kami alami, tapi perbaikannya selalu lambat,” ungkap seorang staf yang enggan disebutkan namanya.
Lebih parah lagi, seorang pegawai pemerintah menceritakan pengalaman mencekam ketika dirinya terjebak di dalam lift yang tiba-tiba anjlok.
“Waktu itu lift tiba-tiba berhenti, lalu turun cepat. Saya benar-benar takut. Alhamdulillah selamat, tapi trauma juga. Kalau begini terus, bahaya bagi pegawai dan masyarakat,” ujarnya dengan wajah serius.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan aspek keselamatan kerja dan keselamatan publik, mengingat gedung ini merupakan pusat aktivitas ratusan pegawai serta tempat masyarakat mengurus berbagai pelayanan administratif.
Sejumlah warga dan pegawai yang ditemui berharap agar Pemerintah Kota Cilegon segera mengambil langkah nyata memperbaiki fasilitas tersebut.
“Ini bukan soal kenyamanan saja, tapi soal keselamatan. Lift itu bagian dari pelayanan dasar di gedung publik. Kalau sampai menimbulkan korban, siapa yang tanggung jawab?” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Tanggung Jawab Antarbagian Masih Saling Lempar
Dalam upaya mencari kejelasan, tim Jurnal KUHP mencoba mengonfirmasi masalah ini kepada Bagian Aset Pemerintah Kota Cilegon.
Melalui pesan singkat, pihak aset menjawab bahwa urusan perawatan dan perbaikan lift menjadi kewenangan bagian umum, dan menyarankan agar konfirmasi dilanjutkan ke pihak tersebut.
Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Bagian Umum maupun Dinas terkait, sementara keluhan masyarakat dan pegawai terus berlanjut.
Simbol Buram Pelayanan Publik
Kondisi lift yang rusak di Graha Edi bukan hanya masalah teknis, tetapi juga cerminan buram dari tata kelola pelayanan publik di tubuh Pemerintah Kota Cilegon. Gedung yang seharusnya menjadi simbol profesionalisme dan pelayanan prima justru menunjukkan ketidakpedulian terhadap fasilitas dasar dan keselamatan masyarakat.
Tim Jurnal KUHP akan terus menelusuri perkembangan kasus ini dan menunggu tanggung jawab nyata dari pihak-pihak berwenang, agar wajah pelayanan publik Cilegon tidak terus tercoreng oleh kelalaian internal sendiri.
Reporter: Tim Investigasi Jurnal KUHP
Editor: Redaksi JurnalKUHP.com





















