CILEGON, JURNALKUHP.COM — Gedung DPRD Kota Cilegon yang seharusnya menjadi rumah aspirasi rakyat kini justru menjadi sorotan tajam. Selain pintu gerbang utama yang rusak dan tak kunjung diperbaiki, warga juga mengeluhkan sikap salah satu oknum Wakil Ketua DPRD Kota Cilegon yang dianggap tertutup dan tidak menghargai kehadiran masyarakat yang datang secara langsung ke kantor dewan.

Seorang warga Cilegon yang datang ke DPRD pada Rabu (08/10/2025) menuturkan bahwa dirinya datang tanpa janji resmi, namun dengan itikad baik untuk menyampaikan aspirasi langsung.
“Kami datang bukan untuk gaduh, tapi ingin bersilaturahmi dan menyampaikan aspirasi warga. Kalau beliau memang sedang di kantor, seharusnya bisa membuka pintu dan menerima dengan baik. Itu bagian dari tugas sebagai wakil rakyat,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya kepada Jurnal KUHP.

Menurut keterangan warga, ajudan Wakil Ketua DPRD tersebut sebenarnya sudah berupaya menyampaikan bahwa ada masyarakat yang ingin bertemu. Namun alih-alih ditemui, sang pejabat justru keluar begitu saja tanpa menyapa sedikit pun.
“Ajudannya sudah sampaikan bahwa kami menunggu di depan. Tapi bukannya menemui, menyapapun tidak. Beliau malah langsung keluar meninggalkan kami. Rasanya seperti rakyat ini tak dianggap,” ungkap warga tersebut dengan nada kecewa.

Warga itu juga menyindir kondisi pintu ruangan Wakil Ketua DPRD yang disebut “fungsi dan motoriknya rusak,” sama seperti gerbang utama kantor DPRD yang sudah lama dibiarkan rusak tanpa perbaikan.
“Pintu ruangan dan gerbang sama-sama rusak. Seolah-olah itu simbol bahwa pintu hati dan pintu pelayanan wakil rakyat di sini juga sudah tertutup,” katanya.
Fenomena ini, menurut warga, menggambarkan menurunnya sensitivitas pejabat terhadap nilai pelayanan publik. Kantor DPRD seharusnya menjadi tempat rakyat merasa diterima, bukan justru diabaikan.
Sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Sekretariat DPRD maupun dari oknum Wakil Ketua DPRD yang dimaksud terkait sikap tersebut maupun alasan fasilitas publik seperti gerbang utama belum diperbaiki.
Kritik ini menjadi pengingat keras bahwa simbol-simbol kecil seperti gerbang, pintu, dan sapaan sederhana pun mencerminkan wajah kepemimpinan. Rusaknya fasilitas bisa diperbaiki, namun jika yang rusak adalah empati dan rasa hormat terhadap rakyat, itulah kerusakan paling dalam.
Redaksi.























