KEBUMEN, JURNALKUHP.COM – Kemerdekaan Indonesia yang ke-80 seharusnya menjadi ruang refleksi bersama: apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka atau masih terikat pada belenggu ketidakadilan? Bagi Sugiono, S.H., dari DPC LPKSM Kresna Cakra Nusantara, nasionalisme tidak cukup hanya dengan upacara, bendera, dan seremonial.
“Kemerdekaan tidak ada artinya bila rakyat masih ditindas dan haknya dirampas. Kami berdiri melawan, sampai keadilan ditegakkan,” tegasnya.
Di tengah gegap gempita perayaan 17 Agustus, Sugiono menyoroti persoalan pendidikan di Kebumen yang masih jauh dari harapan. Ia menilai, banyak anak bangsa di daerah belum benar-benar merdeka dalam mengenyam pendidikan yang adil dan bermutu.
Menurutnya, pendidikan adalah kunci bagi tegaknya nasionalisme sejati. Namun, jika sekolah masih kekurangan sarana, guru tak sejahtera, dan akses pendidikan belum merata, maka kemerdekaan yang dirayakan tiap tahun hanyalah simbol kosong.
“Nasionalisme bukan hanya mengibarkan bendera. Nasionalisme adalah keberanian negara menjamin anak-anak di Kebumen mendapat pendidikan yang layak, tanpa diskriminasi, tanpa harus terbebani biaya yang memberatkan orang tua,” ujar Sugiono.
Ia mengingatkan, rakyat butuh merdeka yang hakiki, bukan sekadar merdeka dalam simbol. Merdeka yang hakiki adalah ketika pendidikan menjadi hak semua orang, bukan hanya bagi mereka yang mampu.
“Rakyat butuh hakikinya merdeka, Jendral! Bukan sekadar pesta tahunan, tetapi kemerdekaan yang benar-benar hadir dalam keseharian rakyat,” pungkasnya.
Red.























